Menperin Sebut Dekarbonisasi Bisa Jadi Sumber Cuan, Bukan Sekadar Beban Biaya Industri

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan dekarbonisasi tak melulu soal beban biaya. Lewat teknologi carbon capture and utilization di sektor petrokimia, industri bahkan bisa meraup produk sampingan bernilai ekonomi berupa karbon ash. Kemenperin pun terus meyakinkan pelaku usaha bahwa transisi industri hijau berpeluang menjadi pusat keuntungan, terlebih jika mekanisme perdagangan karbon dengan negara maju berjalan adil.

Oct 26, 2026 - 16:02
Updated: 1 day ago
0
Menperin Sebut Dekarbonisasi Bisa Jadi Sumber Cuan, Bukan Sekadar Beban Biaya Industri
Menperin Sebut Dekarbonisasi Bisa Jadi Sumber Cuan, Bukan Sekadar Beban Biaya Industri

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menilai program dekarbonisasi bukan sekadar kewajiban lingkungan yang membebani industri. Menurutnya, langkah penurunan emisi karbon justru berpeluang mendatangkan keuntungan bagi pelaku usaha di dalam negeri.

Pandangan itu disampaikan Sarmuji dengan menepis anggapan bahwa dekarbonisasi selalu identik dengan cost center atau pusat biaya. Ia menegaskan transisi menuju industri hijau bisa berbalik menjadi profit center atau sumber keuntungan apabila dikelola dengan tepat.

Bukti tersebut, kata Sarmuji, terlihat dari penerapan teknologi carbon capture and utilization di sektor industri petrokimia. Proses penangkapan dan pemanfaatan karbon tidak hanya memurnikan karbondioksida, tetapi juga menghasilkan produk sampingan bernilai ekonomis berupa karbon ash.

"Ternyata setelah kita lihat carbon capture and utilization itu, itu bukan hanya menjadi industri hijau saja, bukan hanya memurnikan karbondioksida saja, tetapi memperoleh produk sampingan yaitu karbon ash yang tadi saya sempat singgung tadi itu, yang kalau kita kembangkan bisa memiliki nilai ekonomi," ujar Sarmuji dalam Special Interview CNN Indonesia TV, Senin (26/10).

Atas dasar itu, Kemenperin terus meyakinkan para pelaku usaha bahwa transisi menuju industri hijau dapat memberikan nilai tambah secara ekonomi. Keyakinan ini diperkuat karena negara maju seperti Jepang telah mengadopsi teknologi serupa secara masif.

"Kita lagi meyakinkan ke industri-industri kita bahwa dekarbonisasi itu bukan selalu dipersepsikan sebagai unit cost atau cost center, tetapi bisa juga suatu saat menjadi profit center dan sudah ada buktinya," katanya.

Ke depan, Sarmuji menyebut peluang keuntungan industri hijau masih bisa dioptimalkan melalui mekanisme perdagangan karbon atau carbon trading. Namun, hal itu bergantung pada kejelasan aturan main serta perdagangan yang adil dengan negara-negara maju.

"Kalau mekanismenya bisa kita perjelas, ada trading yang fair dengan negara-negara maju, insyaallah proses dekarbonisasi ini bisa lebih dikembangkan," pungkas Sarmuji.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User