Hamilton Serukan Pembebasan Palestina hingga Sudan di Tengah Sorotan GP Afrika

Pembalap Ferrari Lewis Hamilton memanfaatkan momen jelang Formula 1 GP Amerika Serikat untuk menyerukan pembebasan Palestina, Kongo, Sudan, dan Suriah. Seruan itu muncul di tengah sorotan Amnesty International terhadap penunjukan Rwanda sebagai tuan rumah GP Afrika pada awal 2030-an. Hamilton menegaskan ajang olahraga tidak boleh mengabaikan krisis kemanusiaan dan pelanggaran HAM.

Oct 24, 2026 - 08:02
Updated: 14 hours ago
0
Hamilton Serukan Pembebasan Palestina hingga Sudan di Tengah Sorotan GP Afrika
Hamilton Serukan Pembebasan Palestina hingga Sudan di Tengah Sorotan GP Afrika

Pembalap Ferrari Lewis Hamilton kembali menyuarakan kepeduliannya terhadap krisis kemanusiaan global. Kali ini, juara dunia tujuh kali tersebut memanfaatkan panggung Formula 1 untuk menyerukan pembebasan Palestina, Kongo, Sudan, dan Suriah.

Seruan itu disampaikan Hamilton di sela persiapan Formula 1 Grand Prix Amerika Serikat. Momen tersebut berdekatan dengan pengumuman resmi GP Afrika yang dijadwalkan bergulir pada awal 2030-an.

Menurut laporan MotorBiscuit.com, Hamilton menilai agenda olahraga tidak seharusnya mengabaikan konflik sosial maupun pelanggaran hak asasi manusia yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Baginya, kehadiran F1 di suatu wilayah harus tetap disertai kepedulian terhadap kondisi masyarakatnya.

"Saya pikir kita perlu memastikan bahwa kita terus mendorong untuk membebaskan Kongo, membebaskan Sudan, membebaskan Suriah, membebaskan Palestina. Saya berharap ada banyak perdamaian yang pada suatu saat nanti bisa kita capai," kata Hamilton.

Pernyataan lantang Hamilton muncul ketika penunjukan Rwanda sebagai tuan rumah GP Afrika mendapat sorotan tajam dari Amnesty International. Kelompok hak asasi manusia itu menyoroti dugaan keterlibatan militer serta pelanggaran HAM dalam konflik wilayah di Republik Demokratik Kongo.

Hamilton menegaskan bahwa kehadiran F1 di Afrika tidak boleh mengalihkan perhatian publik dari persoalan krusial di kawasan tersebut. Ia mendorong masyarakat dunia lebih aktif mempelajari sejarah panjang dan dinamika politik yang dialami benua itu.

"Tentu saja pergi ke sana bukan berarti kita mengabaikan hal-hal yang sedang terjadi di sana. Jadi, mudah-mudahan banyak orang mulai mengedukasi diri mereka sendiri tentang apa yang terjadi di sana," ujar Hamilton.

Pembalap berusia 41 tahun itu mengaku telah lama mengadvokasi kembalinya balapan F1 ke benua Afrika. Ia menyebut telah melakukan banyak pertemuan dengan CEO F1 Stefano Domenicali hingga para pemimpin negara di Afrika demi merealisasikan agenda tersebut.

"Saya telah mengadvokasi balapan di Afrika selama bertahun-tahun. Saya melakukan rapat yang tidak terhitung jumlahnya dengan para pemangku kepentingan, termasuk pertemuan dengan Stefano maupun panggilan telepon dengan presiden dari berbagai negara," tuturnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User