Guru Besar UNP Soroti Dampak Flexing Prestasi Anak terhadap Stres Akademik

Guru Besar UNP, Prof. Zadrian Ardi, mengingatkan bahwa flexing prestasi anak di media sosial dapat memicu stres akademik. Tekanan berasal dari ekspektasi orang tua yang tidak dikomunikasikan, kebiasaan menunda, dan budaya pamer. Ia menyarankan komunikasi terbuka dan pendekatan Psychological First Aid untuk mencegah stres berkepanjangan.

Aug 10, 2026 - 03:20
Aug 10, 2026 - 03:20
 0
Guru Besar UNP Soroti Dampak Flexing Prestasi Anak terhadap Stres Akademik
Guru Besar UNP Soroti Dampak Flexing Prestasi Anak terhadap Stres Akademik

Fenomena membagikan prestasi anak di media sosial, yang dikenal dengan istilah flexing, tengah menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Di balik rasa bangga yang ditunjukkan orang tua, terdapat risiko yang kerap tidak disadari, yaitu munculnya tekanan psikologis pada anak yang dapat berujung pada stres akademik. Hal ini menjadi perhatian serius Guru Besar Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Dr. Zadrian Ardi, S.Pd., M.Pd., Kons.

Menurut Zadrian, stres akademik tidak hanya dipicu oleh banyaknya tugas kuliah atau tuntutan nilai tinggi. Berdasarkan kajian dan penanganan kasus yang dilakukannya, tekanan juga bersumber dari ekspektasi diri sendiri maupun orang tua yang tidak dikomunikasikan dengan baik. Ia menjelaskan bahwa indikator stres akademik meliputi tekanan terhadap tugas, tuntutan memperoleh nilai baik, ketakutan akan kegagalan, serta ekspektasi tinggi dari keluarga. Kondisi ini sering kali tidak disadari karena banyak mahasiswa memilih memendam tekanan daripada menceritakannya.

Guru besar termuda UNP dengan bidang kepakaran Teknologi dan Media dalam Bimbingan dan Konseling ini mencontohkan, orang tua memiliki harapan tertentu terhadap anak, tetapi anak tidak memahami harapan tersebut. Ketika komunikasi tidak berjalan, kondisi itu dapat menjadi beban psikologis. Pengalamannya mendampingi mahasiswa di Laboratorium Bimbingan dan Konseling UNP menunjukkan bahwa tekanan akademik tidak hanya dialami oleh mereka yang kemampuan akademiknya rendah. Banyak mahasiswa yang sebenarnya mampu menyelesaikan studi, tetapi terjebak dalam tekanan untuk memenuhi harapan orang tua atau target pribadi yang terlalu tinggi.

Bahkan, dalam beberapa kasus, mahasiswa terlambat lulus karena takut mengungkapkan kondisi sebenarnya kepada keluarga. Ada yang mengaku sudah mengerjakan skripsi padahal belum memulainya, karena khawatir mengecewakan orang tua. Zadrian juga mengungkapkan bahwa sebagian mahasiswa yang datang ke layanan konseling telah mengalami tekanan dari tingkat ringan hingga berat. Tidak sedikit yang mengonsumsi obat tidur atau obat psikiatri akibat tekanan akademik yang menumpuk dan tidak tertangani sejak dini. Kondisi ini menunjukkan pentingnya deteksi dan pendampingan sejak awal agar stres akademik tidak berkembang menjadi depresi atau gangguan psikologis lainnya.

Selain faktor keluarga, kebiasaan menunda pekerjaan atau prokrastinasi juga menjadi pemicu meningkatnya stres akademik. Tugas yang terus ditunda akan menumpuk dan memperbesar tekanan yang dirasakan mahasiswa. Oleh karena itu, kemampuan mengelola waktu dan strategi menghadapi tekanan menjadi bagian penting dalam pencegahan. Zadrian menambahkan, budaya media sosial semakin memperkuat tekanan tersebut. Orang tua memang wajar merasa bangga atas pencapaian anak, tetapi ketika prestasi terus dipamerkan atau dijadikan tolok ukur keberhasilan, anak dapat merasa harus selalu memenuhi harapan tersebut.

Ia menegaskan bahwa yang perlu dihindari bukanlah membagikan kebanggaan terhadap anak, melainkan ketika hal itu berkembang menjadi kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain atau menuntut mereka memenuhi standar tertentu. Membandingkan anak dengan anak lain atau menjadikan capaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan dapat menjadi beban psikologis. Untuk membantu mahasiswa menghadapi tekanan tersebut, timnya mengembangkan model konseling daring yang diawali dengan pendekatan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis. Pendekatan ini dirancang agar mahasiswa yang mulai mengalami tekanan dapat memperoleh bantuan sejak fase awal, sehingga masalah tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.

Zadrian menekankan bahwa komunikasi menjadi kunci utama. Orang tua boleh memiliki harapan terhadap anak, tetapi harus memahami kemampuan anak dan memberikan ruang untuk berdialog mengenai proses yang sedang dijalani. Ia menyarankan agar orang tua lebih banyak bertanya tentang perkembangan anak, mendengarkan apa yang mereka alami, dan memberikan penguatan ketika anak menunjukkan kemajuan. Ekspektasi boleh ada, tetapi jangan sampai berubah menjadi tekanan yang membebani anak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0