Film Berbahasa Minangkabau Kampia Siriah Lolos Kompetisi JAFF 2026, Siap Hadapi Rumah Produksi Besar

Film independen asal Sumatera Barat, Kampia Siriah (Shattered Vows), menembus kompetisi Indonesian Screen Awards di JAFF 2026 dan dijadwalkan menggelar pemutaran perdana dunia di Yogyakarta. Film berdurasi 81 menit yang sepenuhnya berbahasa Minangkabau ini disutradarai Ferdinand Almi dan diproduksi Brisickzz Production, membawa cerita tradisi jemputan serta janji pranikah masyarakat Minangkabau.

Nov 07, 2026 - 08:02
Updated: 1 day ago
0
Film Berbahasa Minangkabau Kampia Siriah Lolos Kompetisi JAFF 2026, Siap Hadapi Rumah Produksi Besar
Film Berbahasa Minangkabau Kampia Siriah Lolos Kompetisi JAFF 2026, Siap Hadapi Rumah Produksi Besar

Film independen asal Sumatera Barat berjudul Kampia Siriah atau Shattered Vows berhasil masuk program kompetisi Indonesian Screen Awards pada perhelatan ke-21 Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2026. Karya berdurasi 81 menit yang sepenuhnya menggunakan bahasa Minangkabau itu dijadwalkan menggelar pemutaran perdana dunia di hadapan publik festival di Yogyakarta.

Capaian ini menjadi tonggak penting bagi perkembangan sinema independen Sumatera Barat. Kampia Siriah hadir dengan cerita yang berakar pada tradisi dan kehidupan sosial masyarakat Minangkabau, sekaligus membuktikan bahwa produksi film dari luar pusat industri perfilman nasional mampu bersaing di panggung festival.

Film ini disutradarai Ferdinand Almi, yang akrab disapa Ajo, dan diproduksi melalui Brisickzz Production, rumah produksi independen yang ia dirikan di Padang Panjang. Ferdinand sebelumnya dikenal lewat film Salisiah Adaik pada 2013. Dalam karya terbarunya, ia kembali mengangkat persoalan adat dan kehidupan sosial masyarakat Minangkabau dengan pendekatan sinema independen.

Kampia Siriah menyoroti polemik tradisi jemputan atau bajapuik serta janji pranikah yang memiliki nilai sakral dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Kisah itu menjadi ruang bagi film untuk mengeksplorasi hubungan antara tradisi, komitmen, dan persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Semangat independen produksi ini tampak dari keterlibatan talenta lokal Sumatera Barat. Film diproduseri Fajar Indayani, dengan Alfahrozi Arrahman sebagai penata kamera, Tomi Fransisco sebagai art director, serta Muhammad Jel Fadjri Matenas sebagai penyunting gambar. Adapun film ini dibintangi Qataria Faradifa dan Milhazil Aidi. Kolaborasi tersebut memperlihatkan ekosistem perfilman independen Sumatera Barat yang terus bergerak meski berada di luar pusat industri film nasional.

Di program Indonesian Screen Awards JAFF 2026, Kampia Siriah akan bersaing dengan sejumlah film dari sutradara dan rumah produksi nasional. Deretan pesaingnya antara lain Filosofi Teras arahan Affandi Abdul Rachman dari MD Pictures, Secrets karya Ravi Bharwani, Coming Home karya Bene Dion Rajagukguk, serta Ibuku karya Eddie Cahyono.

Selain itu, ada The Art of Seducing God karya Cesa David Luckmansyah, Bara & The Secret Forest karya Eman Pradipta, hingga film dokumenter I Saw Her in Motion karya Umi Lestari. Persaingan ini mempertemukan beragam pendekatan dan latar produksi film Indonesia, dari karya yang didukung rumah produksi besar hingga film independen yang mengandalkan kekuatan cerita, kreativitas, dan idealisme pembuatnya.

Bagi perfilman Sumatera Barat, kehadiran Kampia Siriah di JAFF 2026 menjadi kesempatan memperkenalkan cerita dan kebudayaan Minangkabau kepada khalayak lebih luas. Film ini sekaligus membawa semangat bahwa sinema daerah tidak harus berhenti sebagai produksi lokal, tetapi dapat menjadi bagian dari percakapan perfilman nasional melalui cerita yang berangkat dari identitas dan realitas masyarakatnya. Informasi mengenai film ini tercantum dalam laman resmi JAFF melalui judul internasional Shattered Vows.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User