El Nino Bikin Sungai Dangkal, Pertamina Terpaksa Ubah Rute Distribusi BBM
Fenomena El Nino yang memicu kekeringan ekstrem membuat sejumlah sungai mengalami pendangkalan sehingga mengganggu jalur kapal pengangkut BBM. Pertamina pun mengalihkan distribusi BBM dari jalur air ke transportasi darat. INDEF menilai pengalihan ini membebani operasional dan berisiko memicu keterlambatan pasokan hingga kelangkaan BBM di sejumlah daerah.
Fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan ekstrem di Indonesia turut berdampak pada kelancaran distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM). Kekeringan membuat sejumlah sungai yang selama ini menjadi jalur utama kapal pengangkut BBM mengalami pendangkalan parah.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan kondisi tersebut memaksa PT Pertamina (Persero) mengubah strategi distribusi. BBM yang semula diangkut melalui jalur air dialihkan menggunakan transportasi darat.
"Kita mengalihkan dengan transportasi darat dan itu sebagian memakan waktu. Tapi sekalipun demikian, kita akan melakukan maksimal agar hal-hal yang tidak diinginkan itu tidak terjadi lagi," ujar Bahlil saat konferensi pers usai rapat di Terminal BBM Pesanggaran Pertamina, Kota Denpasar, Bali, Senin (19/10) lalu.
Kepala Pusat Energi dan Pangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov membenarkan tingginya risiko gangguan akibat fenomena alam tersebut. Menurutnya, kekeringan dan pendangkalan sungai berpotensi mengganggu kelancaran distribusi BBM, terutama di wilayah yang mengandalkan transportasi sungai.
Abra menjelaskan, pengalihan distribusi ke jalur darat jelas membebani operasional karena membutuhkan tambahan armada, biaya yang lebih besar, serta waktu tempuh pengiriman yang lebih lama. Kondisi ini berisiko memicu keterlambatan pasokan hingga kelangkaan BBM di sejumlah daerah.
Dari sisi ekonomi, terhambatnya distribusi BBM dinilai menimbulkan efek berantai yang merugikan sektor produksi, transportasi, dan perdagangan. Abra mencontohkan tersendatnya pasokan solar dapat melumpuhkan pergerakan angkutan logistik dan mesin pertanian, yang berujung pada lonjakan biaya produksi dan distribusi barang.
"Risiko ini semakin besar karena El Nino juga dapat mengganggu produksi pangan," ujar Abra kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/10).
Dengan demikian, dampak El Nino tidak hanya terasa pada sektor pertanian dan ketersediaan air, tetapi juga pada rantai distribusi energi yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi nasional.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)