Dampak Perang Iran-AS: Pencemaran Minyak Teluk Persia Naik Dua Kali Lipat, Warga Terancam

Studi mengungkap pencemaran minyak di Teluk Persia melonjak dua kali lipat akibat perang Iran-AS. Serangan terhadap kapal dan fasilitas minyak memicu tumpahan yang terlihat dari luar angkasa, mengancam ekosistem, kesehatan jutaan warga, dan pasokan air desalinasi di kawasan.

Oct 29, 2026 - 04:02
Updated: 1 day ago
0
Dampak Perang Iran-AS: Pencemaran Minyak Teluk Persia Naik Dua Kali Lipat, Warga Terancam
Dampak Perang Iran-AS: Pencemaran Minyak Teluk Persia Naik Dua Kali Lipat, Warga Terancam

Konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) meninggalkan dampak serius bagi lingkungan. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa pencemaran minyak di Teluk Persia meningkat dua kali lipat dibandingkan perkiraan jika perang tidak terjadi. Bom dan rudal yang digunakan dalam perang tersebut turut melepaskan logam berat serta bahan kimia berbahaya ke atmosfer.

Serangan antara AS-Israel dan Iran dilaporkan menghantam fasilitas minyak dan memicu kebakaran besar. Akibatnya, Teheran sempat diselimuti asap hitam pekat dan hujan yang tercampur minyak. Kondisi ini membuat jutaan masyarakat terpapar polusi yang berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang.

Dampak serupa meluas ke Teluk Persia. Serangan terhadap kapal dan infrastruktur minyak di jalur air tersebut menghasilkan tumpahan minyak yang bahkan terlihat dari luar angkasa. Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan Uni Emirat Arab (UEA) menyebut tumpahan itu berasal dari kapal tanker di Emirat Umm Al Quwain. Pihak berwenang pun tengah berupaya menahan dampak lingkungan yang lebih luas.

Belum ada konfirmasi apakah tumpahan tersebut berkaitan langsung dengan serangan Iran. Namun, para ahli menilai peristiwa ini sebagai tanda risiko besar yang dihadapi Teluk Persia. Selama berbulan-bulan, kapal kargo dan kapal tanker minyak menjadi sasaran di Selat Hormuz, rute pelayaran vital bagi minyak dan gas antara Teluk Persia dan Teluk Oman.

Anggota kelompok ahli oseanografi satelit di University of South Florida, Brian Barnes, menyatakan bahwa dampak dari benturan kapal hingga kerusakan lingkungan terlihat jelas dalam banyak kasus. "Pada beberapa kapal besar yang menjadi sasaran, kami melihat jejak tumpahan yang terus memanjang hingga ratusan kilometer dari lokasi serangan," kata Barnes.

Barnes dan ilmuwan lain membandingkan kondisi Teluk Persia selama perang yang terjadi pada Maret 2026 dengan periode yang sama tahun lalu. Hasilnya menunjukkan peningkatan polusi yang tajam. "Apa yang kami lihat adalah dua kali lipat jumlah minyak permukaan di area Teluk Persia dibandingkan dengan yang kami perkirakan jika tidak ada konflik besar," ujarnya.

Meski demikian, citra satelit hanya mampu menunjukkan keberadaan minyak di permukaan air, bukan ketebalannya. Pencemaran di Teluk Persia dinilai lebih rumit karena perairan ini relatif dangkal, dengan bagian terdalam sekitar 110 meter, dan luasnya hanya sekitar 241.000 kilometer persegi. Teluk ini juga hanya memiliki satu jalur masuk dan keluar, yakni Selat Hormuz, sehingga polutan sulit menyebar atau terencerkan.

Profesor di Nova Southeastern University, Bernhard Riegl, mengingatkan bahwa dampak perang akan meluas ke seluruh kawasan. "Jika kita mengambil setetes minyak dan memasukkannya ke perairan di sisi Iran, tempat air masuk ke Teluk Persia, setahun kemudian minyak itu akan berada di Kuwait. Dua tahun kemudian, minyak itu akan berada di sisi Teluk Persia yang berbatasan dengan Oman dan mengapung ke luar," kata Riegl.

Riegl mencontohkan Perang Teluk 1991 sebagai pelajaran penting. Saat itu, pasukan Iran yang mundur membakar ratusan sumur minyak di Kuwait hingga menciptakan bencana lingkungan yang dampaknya dirasakan di seluruh Teluk Persia. Ia juga mengkhawatirkan puluhan juta penduduk yang bergantung pada instalasi desalinasi. Enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menghasilkan sekitar sepertiga dari total air hasil desalinasi dunia, dengan Bahrain dan Kuwait hampir sepenuhnya bergantung pada fasilitas tersebut.

Selain itu, pencemaran minyak dikhawatirkan mengganggu pemahaman ilmuwan mengenai dampak perubahan iklim terhadap laut. Riegl menyebut suhu tinggi di Teluk Persia kurang lebih mencerminkan kondisi yang diperkirakan akan dialami kawasan tropis laut sekitar tahun 2100. Teluk ini juga memiliki sumber daya genetik berharga dan menjadi habitat bagi spesies penyu, ratusan jenis ikan, serta populasi dugong terbesar kedua di dunia.

Utusan khusus UEA dari Menteri Luar Negeri untuk urusan alam, Razan Khalifa Al Mubarak, menyerukan penghentian serangan di kawasan Teluk Persia. "Meski biaya finansial akibat kerusakan dapat dihitung, hilangnya ekosistem dan spesies tidak dapat diukur dengan cara yang sama. Setelah mengalami kerusakan, sistem-sistem ini mungkin tidak akan pulih," tulisnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User