Prancis Tolak Penundaan Pemilu Palestina, Desak Abbas Gelar Pemilihan Segera
Prancis menyerukan otoritas Palestina membatalkan penundaan pemilu legislatif dan presiden yang dijadwalkan ulang ke 11 September 2027 oleh Presiden Mahmoud Abbas. Paris menyesalkan keputusan itu dan mendesak pemilu digelar sesegera mungkin di seluruh wilayah Palestina, sementara Abbas menyalahkan Israel dan situasi keamanan sebagai alasan penundaan.
Pemerintah Prancis menyerukan otoritas Palestina untuk membatalkan keputusan penundaan pemilu legislatif dan presiden. Paris mendesak pemungutan suara digelar sesegera mungkin di seluruh wilayah Palestina.
Seruan itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis melalui pernyataan pada Minggu (11/10), dikutip dari Reuters. Prancis menyesalkan langkah Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang mengubah jadwal pemilu tersebut.
"Prancis menyerukan kepada otoritas Palestina untuk membatalkan keputusan mereka dan menyelenggarakan pemilu parlemen serta presiden di seluruh wilayah Palestina sesegera mungkin," kata juru bicara kementerian itu.
Keputusan yang dipersoalkan itu diumumkan Abbas pada Sabtu (10/10). Ia menunda pemilu legislatif yang semula dijadwalkan November menjadi 11 September 2027, sekaligus menetapkan pemilu presiden pada tanggal yang sama.
Abbas menyalahkan Israel dan situasi keamanan di wilayah Palestina sebagai alasan penundaan. Menurut kantor berita resmi Palestina, WAFA, dekret Abbas menekankan perlunya kondisi politik, keamanan, dan lapangan yang memadai agar pemilu berlangsung bebas, adil, dan inklusif.
Di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, dekret itu menyebut serangan militer Israel, perluasan permukiman, kekerasan pemukim, dan pembatasan pergerakan sebagai hambatan. Penahanan pendapatan pajak Palestina oleh Israel juga disebut menyulitkan persiapan pemilu.
Sementara di Gaza, dekret tersebut menyoroti kondisi keamanan dan kemanusiaan, penarikan pasukan Israel yang belum tuntas, serta rekonstruksi yang belum berjalan. Israel juga disebut membatasi akses petugas komisi pemilu dan pemantau internasional ke Gaza serta Yerusalem Timur.
Dua pejabat Palestina sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa pimpinan Fatah dan Hamas telah sepakat menunda pemilu dalam pertemuan di Kairo, Mesir, Rabu (7/10). Keputusan penundaan ini muncul beberapa pekan setelah Abbas menegaskan jadwal pemilu November dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada 24 September.
Abbas juga sebelumnya berjanji secara tertulis kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk menggelar pemilu presiden serta legislatif. Janji tersebut menjadi bagian dari pengakuan Prancis atas negara Palestina pada September 2025.
Pada Kamis (8/10), Kementerian Luar Negeri Prancis menyatakan pelaksanaan pemilu sangat penting dan menyambut peluncuran misi pemantau pemilu Uni Eropa. Palestina belum menggelar pemilu presiden maupun legislatif sejak 2005-2006, dan Abbas memerintah lewat dekret sejak masa jabatannya berakhir pada 2009.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)