Ebola Lolos Skrining Bandara, Kenya Konfirmasi Kasus Impor Pertama
Seorang pria asal Kenya yang tinggal di RD Kongo terkonfirmasi Ebola setelah tiba di Nairobi tanpa terdeteksi skrining bandara. Ia meninggal pada 5 Oktober. Kasus ini menjadi yang pertama di Kenya dan menunjukkan sulitnya membendung penyebaran lintas batas. WHO mencatat 8.728 kasus dan 4.205 kematian di RD Kongo. Para ahli memperingatkan potensi kasus lebih banyak.
Kenya menghadapi kasus Ebola pertamanya setelah seorang pria yang terinfeksi virus Bundibugyo berhasil melewati skrining kesehatan di bandara Uganda dan Kenya. Pria tersebut tiba di Nairobi pada 3 Oktober dan langsung dilarikan ke Nairobi Hospital. Setelah menjalani perawatan intensif, ia meninggal pada Senin (5/10).
Pria itu diketahui telah tinggal selama tujuh tahun di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dan sudah sakit selama berminggu-minggu. Perjalanannya dimulai pada 2 Oktober dengan jalur darat dari Beni, Provinsi Kivu Utara, menuju Kampala, Uganda. Keesokan harinya, ia terbang ke Nairobi. Menurut Kementerian Kesehatan Kenya, saat tiba ia mengalami demam, menggigil, kelelahan berat, nyeri otot, dan perdarahan di bawah kulit. Dokter segera mengisolasinya, dan tes mengonfirmasi infeksi virus Bundibugyo, salah satu jenis Ebola.
Kasus ini menjadi yang keempat di dunia yang mengonfirmasi virus Bundibugyo, setelah sebelumnya Uganda mencatat 20 kasus dan dinyatakan bebas Ebola pada 28 Juli, serta Prancis melaporkan satu kasus terkait perjalanan tanpa penularan lanjutan. Kenya sebelumnya telah melakukan persiapan ekstensif dengan menyaring ratusan ribu pelancong dan melatih hampir 5.000 tenaga kesehatan. Namun, virus tetap lolos.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat hingga Rabu (7/10), terdapat 8.728 kasus terkonfirmasi dan 4.205 kematian akibat wabah Ebola di RD Kongo, yang tersebar di tujuh provinsi. Wabah ini merupakan yang terbesar yang pernah tercatat di negara tersebut. WHO menilai penularan masih intens dan risiko bagi negara-negara yang berbatasan darat dengan RD Kongo tinggi.
Oyewale Tomori, mantan ahli virologi regional WHO untuk Afrika, menyatakan bahwa infeksi bisa terus melintasi perbatasan selama penularan di RD Kongo masih tinggi. "Afrika adalah lapangan terbuka yang dibagi menjadi negara-negara oleh perbatasan berpori yang minim penjagaan. Kasus Kenya adalah peringatan akan lebih banyak kasus di masa depan," ujarnya.
WHO menyebut belum jelas kapan pria itu mulai menunjukkan gejala selama perjalanan. Sakitnya yang sudah sebulan mengindikasikan kemungkinan ia awalnya menderita penyakit lain, lalu tertular Ebola saat mencari pengobatan. Otoritas belum menjelaskan skrining apa yang dijalaninya di perbatasan darat RD Kongo dan Uganda. Kementerian Kesehatan Uganda menyatakan pria itu berada di negaranya kurang dari 24 jam dan suhunya normal saat diperiksa sebelum berangkat dari Bandara Internasional Entebbe. Di Nairobi, ia hanya menjalani skrining kesehatan masyarakat biasa di Bandara Internasional Jomo Kenyatta dan tidak ditandai sebagai suspek Ebola.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat mobilitas antara wilayah terdampak Ebola di timur RD Kongo dan negara tetangga masih tinggi, baik untuk bekerja, berdagang, maupun urusan keluarga. Sebagian melintas lewat jalur tidak resmi yang sulit dipantau. Menurut IOM, skrining di bandara dan perbatasan darat tidak akan menjaring setiap pelancong yang terinfeksi, terutama sebelum gejala muncul.
Christian Happi, profesor biologi molekuler dan genomik di Redeemer's University, Nigeria, menilai pemeriksaan suhu bisa melewatkan pelancong terinfeksi yang sedang tidak demam. Ia mengusulkan setiap penumpang pesawat dari RD Kongo wajib menunjukkan hasil tes Ebola negatif sebelum naik. Usulan itu melampaui panduan WHO yang hanya meminta skrining keluar berupa kuesioner paparan dan pemeriksaan suhu, tanpa mewajibkan tes Ebola negatif. Happi, yang laboratoriumnya ikut mengonfirmasi kasus Ebola pertama di Nigeria pada 2014, mencontohkan pengalaman negaranya saat epidemi Ebola di Afrika Barat. Kala itu, satu kasus impor di Lagos memicu 20 kasus dan delapan kematian sebelum penularan dihentikan. "Tidak akan mudah mendeteksi semua orang yang melintasi perbatasan. Ini soal seberapa cepat negara mendeteksi, lalu seberapa cepat mereka bisa menahan kasus impor," ujarnya.
Kenya kini melacak siapa saja yang mungkin terpapar dan memperketat skrining di Bandara Jomo Kenyatta. Tes awal terhadap pasien lain berusia 20 tahun yang juga datang dari RD Kongo melalui Uganda menunjukkan hasil negatif pada Kamis (8/10). Deteksi cepat sangat penting karena belum ada vaksin berlisensi maupun pengobatan spesifik yang disetujui untuk jenis Ebola ini. Sejumlah kandidat vaksin dan obat masih dalam pengujian.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)