Kabut Asap Karhutla Ancam Kumbang Penyerbuk, Produksi Minyak Sawit Terancam Turun
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dikhawatirkan mengganggu aktivitas kumbang penyerbuk kelapa sawit. IOPRI menyebut penurunan bunga yang jadi buah bisa mencapai 20 persen, sementara dampak sebenarnya baru terlihat pada panen Maret atau April 2027. Ancaman ini memperburuk pasokan minyak sawit global yang sudah tertekan hasil panen stagnan dan alokasi biofuel.
Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak pada kesehatan dan aktivitas masyarakat. Ekosistem serangga yang berperan penting dalam penyerbukan pohon kelapa sawit turut terancam, dan kondisi ini berpotensi mengganggu pasokan minyak nabati paling banyak dikonsumsi di dunia tersebut.
Menurut Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), asap tebal serta berkurangnya sinar Matahari akibat kebakaran dapat mengganggu kehidupan banyak spesies, termasuk kumbang penyerbuk yang membawa serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina kelapa sawit. Sebaran asap bahkan telah meluas hingga sebagian wilayah Asia Tenggara, dan di beberapa daerah ketebalannya sampai menutupi cahaya Matahari.
IOPRI menilai gangguan tersebut mampu menurunkan jumlah bunga yang tumbuh menjadi kelapa sawit hingga 20 persen. Penurunan ini secara tidak langsung akan mengurangi hasil panen dan mengancam pasokan minyak sawit.
Peneliti perlindungan tanaman IOPRI, Agus Eko Prasetyo, pernah meneliti pengaruh kabut asap terhadap kemampuan kumbang penyerbuk saat kebakaran hutan 2015. Menurutnya, suatu perkebunan mungkin masih memiliki populasi kumbang penyerbuk yang memadai, tetapi efisiensi penyerbukan dapat menurun jika serangga tersebut kurang aktif berpindah antar bunga.
Dampak kabut asap tahun ini belum bisa diukur karena tandan buah sawit membutuhkan waktu lima hingga enam bulan untuk matang setelah penyerbukan. Karena itu, efeknya baru akan terlihat pada musim panen sekitar Maret atau April 2027.
Para peneliti di Malaysian Palm Oil Board (MPOB) mengungkapkan hal serupa. Gangguan penyerbukan dapat membuat buah berkembang tanpa biji sehingga tandan menjadi lebih ringan, atau bahkan menyebabkan gagal panen. Berkurangnya minyak yang diekstraksi pun berisiko menimbulkan kerugian pendapatan hingga jutaan dolar.
"Gabungan efek kekeringan dan kabut asap dapat terus memengaruhi produksi minyak kelapa sawit bahkan setelah kondisi lingkungan kembali normal," kata Prasetyo.
Kumbang penyerbuk sawit sendiri didatangkan dari Afrika ke Malaysia pada awal 1980-an untuk menggantikan penyerbukan manual yang mahal dan membutuhkan banyak tenaga kerja. Serangga ini kemudian diperkenalkan ke Indonesia dan sejak itu memegang peran penting dalam industri perkebunan sawit.
Ancaman penurunan aktivitas penyerbukan semakin memperburuk kondisi pasokan minyak sawit global yang sebelumnya sudah tertekan akibat hasil panen stagnan dan pohon-pohon yang menua. Departemen Pertanian AS bahkan memperkirakan stok minyak sawit turun signifikan ke level terendah dalam sembilan tahun pada musim 2026-2027. Indonesia sebagai produsen terbesar dunia juga mengalokasikan lebih banyak minyak untuk bahan bakar nabati, sehingga pasokan untuk pangan dan kebutuhan lain semakin ketat.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)