Ijazah Bung Hatta Dipamerkan Abadi di Kampus Belanda, Malaysia Desak RI Atasi Karhutla
Salinan ijazah Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta dipajang secara abadi di Erasmus University Rotterdam, Belanda, di gedung yang dinamai Hatta Building. Sementara itu, PM Malaysia Anwar Ibrahim mendesak Indonesia dan ASEAN segera mengatasi karhutla yang memicu kabut asap, dan WHO menyatakan belum punya gambaran lengkap soal dugaan wabah pes di Rusia.
Salinan ijazah Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, dipajang secara permanen di Erasmus University Rotterdam (EUR), Belanda. Ijazah milik tokoh yang akrab disapa Bung Hatta itu ditempatkan di aula sebuah gedung yang diberi nama Hatta Building, sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan perjuangannya bagi kemerdekaan Indonesia. Informasi ini dilansir dari situs Erasmus Magazine dan menjadi salah satu sorotan berita internasional pada Kamis (8/10).
Penghormatan tersebut menegaskan pengakuan dunia akademik internasional terhadap sosok Bung Hatta, yang merupakan salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia. Penempatan ijazah di kampus ternama Belanda itu menjadi simbol jejak historis hubungan Indonesia dengan dunia pendidikan Eropa.
Di kawasan Asia Tenggara, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mendesak Indonesia dan ASEAN untuk segera menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap di Negeri Jiran. Desakan itu disampaikan Anwar melalui unggahan di platform X pada Kamis (8/10).
Anwar mengaku telah berkomunikasi dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto untuk membahas penanganan karhutla. Menurutnya, Presiden Prabowo sepakat untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan. "Komitmen ini harus ditindaklanjuti dengan tindakan segera dan efektif dari pihak Indonesia untuk menangani akar penyebab kabut asap, sementara Malaysia siap untuk bekerja sama," ujar Anwar.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan belum memiliki gambaran lengkap mengenai dugaan kasus penyakit pes di Rusia. Pernyataan ini muncul setelah seorang pekerja laboratorium di Siberia, Darya Shipilova (28), meninggal dunia pekan lalu.
Shipilova meninggal dua hari setelah mengalami gejala yang menyerupai flu. Ia bekerja di sebuah institut penelitian anti wabah di Irkutsk, Rusia timur. Sejumlah laporan menyebut ia diduga terinfeksi akibat kecelakaan kerja di laboratorium.
Namun, otoritas Rusia membantah adanya keterkaitan antara kematian Shipilova dan tempat ia bekerja. Hingga kini, WHO belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai perkembangan penyelidikan kasus tersebut.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)