Djibouti Jadi Satu-satunya Negara dengan Delapan Pangkalan Militer Asing, Ini Alasannya

Djibouti, negara kecil di Tanduk Afrika dengan populasi sekitar satu juta jiwa, menjadi satu-satunya negara di dunia yang menampung delapan pangkalan militer asing. Lokasinya yang strategis di dekat Selat Bab el-Mandeb membuat negara ini menjadi pusat persaingan kekuatan global, dengan Presiden Ismail Omar Guelleh menerapkan diplomasi negara kecil untuk menarik investasi dan aliansi.

Oct 09, 2026 - 00:02
Updated: 8 hours ago
0 0
Djibouti Jadi Satu-satunya Negara dengan Delapan Pangkalan Militer Asing, Ini Alasannya
Djibouti Jadi Satu-satunya Negara dengan Delapan Pangkalan Militer Asing, Ini Alasannya

Djibouti, sebuah negara kecil di kawasan Tanduk Afrika, mencatatkan diri sebagai satu-satunya negara di dunia yang menjadi tuan rumah bagi delapan pangkalan militer asing sekaligus. Negara dengan populasi sekitar satu juta jiwa dan luas wilayah 23.200 kilometer persegi ini telah lama menjadi lokasi strategis bagi kekuatan global yang ingin memperluas pengaruh mereka.

Pangkalan militer asing yang berdiri di Djibouti berasal dari Amerika Serikat, China, Jepang, Prancis, Italia, Jerman, Spanyol, dan Arab Saudi. Kehadiran mereka tidak lepas dari posisi Djibouti yang sangat dekat dengan Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran sempit selebar 19 kilometer yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Selat tersebut memiliki peran vital dalam perdagangan global. Setiap harinya, lebih dari 4,8 juta barel minyak mentah dan produk olahan minyak bumi melintasi jalur ini. Sekitar 12 persen perdagangan maritim dunia juga melewati selat tersebut, sementara sedikitnya 90 persen kapasitas internet yang menghubungkan Eropa dan Asia mengalir melalui kabel bawah laut di rute yang sama.

Menurut Federico Donelli, penulis buku Power Competition in the Red Sea, kawasan ini berada di pusat berbagai kepentingan, mulai dari perdagangan global, pelayaran, hingga konektivitas serat optik dan energi. "Kawasan ini terkait dengan Terusan Suez dan Indo-Pasifik," ujarnya kepada Al Jazeera.

Presiden Djibouti, Ismail Omar Guelleh, yang telah memimpin selama setidaknya dua dekade, menyambut baik kehadiran pangkalan militer asing tersebut. Ia memanfaatkan posisi strategis negaranya untuk memajukan kepentingan nasional dan memperkuat posisi Djibouti di kancah internasional.

Pemerintah Djibouti disebut menerapkan strategi "diplomasi negara kecil" untuk bertahan di lingkungan regional yang penuh persaingan. Teori ini menyatakan bahwa negara-negara kecil perlu mengambil pendekatan strategis agar mampu bersaing dengan kekuatan yang lebih besar dalam sistem internasional.

Dengan menjadi tuan rumah fasilitas militer eksternal, Djibouti berupaya mengamankan investasi ekonomi dan membangun aliansi. Langkah ini juga meningkatkan visibilitas negara tersebut, sebagaimana dinyatakan oleh Presiden Guelleh. Inilah yang membuat banyak negara besar tertarik membangun pangkalan militer di Djibouti.

Keberadaan pangkalan militer asing di suatu negara memang kerap menimbulkan persoalan, seperti yang terjadi pada pangkalan Amerika Serikat di sejumlah negara Arab. Namun, Djibouti memilih jalur berbeda dengan menjadikan posisi geografisnya sebagai aset utama dalam politik luar negeri dan pembangunan ekonomi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User