Heboh! Inggris & Prancis Siap Akui Palestina, Netanyahu Murka: ‘Itu Hadiah untuk Teroris Hamas!
Netanyahu marah besar! Inggris dan Prancis akan akui Palestina di PBB September ini, picu reaksi keras Israel soal ancaman dan terorisme.
Jakarta — Dunia internasional kembali diguncang kabar mengejutkan dari arena diplomasi global. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menunjukkan reaksi keras setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara terang-terangan menyatakan bahwa Inggris siap mengakui kemerdekaan Palestina. Pernyataan ini akan secara resmi diumumkan pada Sidang Umum PBB bulan September 2025 mendatang.
Netanyahu, yang selama ini dikenal sebagai pemimpin yang tegas menentang kemerdekaan Palestina, menyebut langkah Starmer sebagai tindakan berbahaya yang akan menguntungkan kelompok Hamas, yang menurut Israel merupakan organisasi teroris.
“Starmer memberikan hadiah atas terorisme mengerikan Hamas dan menghukum para korbannya,” tulis Netanyahu dengan nada tinggi dalam unggahan di platform X (dulu Twitter).
Tak hanya itu, Netanyahu bahkan melontarkan peringatan keras kepada pemerintah Inggris. Ia menyebut bahwa pengakuan terhadap Palestina hari ini akan menjadi ancaman bagi Inggris di masa depan.
“Negara jihadis di perbatasan Israel hari ini akan mengancam Inggris besok. Upaya menenangkan teroris jihadis akan selalu gagal. Anda pun akan gagal,” seru Netanyahu seperti dikutip dari Politico.
Ultimatum Inggris kepada Israel: Akhiri Serangan atau Kami Akui Palestina!
Langkah yang diambil Keir Starmer bukan tanpa alasan. Dalam pernyataan resmi pada Selasa (29/7), ia memberikan ultimatum kepada Israel untuk segera menghentikan serangan brutal di Gaza dan berkomitmen pada upaya perdamaian berkelanjutan. Jika tidak, Inggris akan secara sepihak mengakui kemerdekaan Palestina.
“Israel harus mengakhiri situasi yang mengerikan di Gaza, menyetujui gencatan senjata dan berkomitmen untuk perdamaian jangka panjang yang berkelanjutan,” ucap Starmer di hadapan media.
Menurut Starmer, sejak awal pemerintah Inggris mendukung solusi dua negara (two-state solution) sebagai kerangka utama penyelesaian konflik Israel-Palestina. Namun, kondisi saat ini yang semakin memburuk membuat kerangka tersebut berada “di bawah ancaman serius”.
“Solusi dua negara kini terancam, dan kami tidak bisa lagi hanya diam. Inggris harus bertindak,” tegas Starmer.
Prancis Ikut Ambil Sikap: Dukung Palestina untuk Hentikan Perang Gaza
Tak hanya Inggris, negara besar lain seperti Prancis juga menunjukkan arah kebijakan luar negeri yang mulai bergeser. Presiden Emmanuel Macron sebelumnya telah lebih dulu menyatakan niatnya untuk mengakui kemerdekaan Palestina, dengan momentum pengumuman yang sama pada Sidang Umum PBB bulan September nanti.
“Kita membutuhkan gencatan senjata segera, pembebasan semua sandera, dan bantuan kemanusiaan besar-besaran bagi rakyat Gaza,” tulis Macron dalam unggahan X resminya.
Pernyataan Macron dan Starmer ini menjadi kombinasi tekanan besar terhadap Israel, terlebih setelah banyak kecaman dari komunitas internasional atas krisis kemanusiaan akut di Gaza.
Situasi Gaza Memburuk: Anak-anak Jadi Korban Utama
Data terakhir dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan situasi yang sangat mencemaskan. Lebih dari 100 warga Gaza tewas akibat kelaparan, dan sebagian besar dari mereka adalah anak-anak. Sekitar 900 ribu anak saat ini mengalami kelaparan, dan 70 ribu lainnya menunjukkan gejala malnutrisi serius.
Gambar dan video yang beredar dari lapangan menunjukkan warga sipil, termasuk anak-anak, kekurangan makanan, air bersih, dan layanan medis. Situasi ini membuat opini publik internasional makin mengarah ke dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.
Dua Kutub Tajam: Antara Dukungan Internasional dan Ancaman Israel
Langkah Inggris dan Prancis merupakan bagian dari gelombang dukungan internasional untuk pengakuan Palestina sebagai negara berdaulat. Namun di sisi lain, Israel dengan tegas menolak semua upaya tersebut, dan bahkan menganggap pengakuan semacam itu sebagai dukungan terhadap kelompok teroris.
Netanyahu menekankan bahwa pemberian legitimasi terhadap Palestina di tengah konflik saat ini sama saja dengan mengabaikan penderitaan warga Israel yang menjadi korban serangan Hamas.
“Tindakan ini hanya akan memperburuk keadaan dan membuat para jihadis merasa diberi hadiah. Ini adalah kesalahan fatal,” ujar Netanyahu dalam pernyataan lanjutan.
Dunia Terbelah: Apakah Ini Awal dari Perubahan Geopolitik Timur Tengah?
Dengan adanya desakan dari negara-negara besar seperti Inggris dan Prancis, banyak pihak menduga bahwa peta geopolitik Timur Tengah bisa berubah drastis dalam waktu dekat. Beberapa negara Eropa bahkan tengah mempertimbangkan langkah serupa, meski belum mengumumkan secara resmi.
Pengamat internasional menyebutkan bahwa pengakuan terhadap Palestina bisa menjadi titik balik diplomasi global, terlebih jika didukung oleh negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB.
Namun, pertanyaannya kini adalah: Apakah tekanan global mampu menghentikan konflik yang telah berlangsung puluhan tahun? Ataukah sebaliknya, justru akan memicu perang baru di kawasan tersebut?
Konflik Israel-Palestina kini memasuki babak baru. Dukungan terbuka dari negara-negara besar seperti Inggris dan Prancis terhadap kemerdekaan Palestina bukan hanya menambah tekanan terhadap Israel, tapi juga membuka kembali perdebatan klasik antara hak menentukan nasib sendiri dan keamanan nasional.
Netanyahu marah, Starmer bersikeras, Macron mendesak, dan dunia menyaksikan dengan cemas. Apakah ini awal dari pengakuan global terhadap Palestina? Ataukah ini justru akan menjadi percikan baru dalam bara konflik Timur Tengah?
Yang jelas, Sidang Umum PBB September 2025 akan menjadi panggung penting dalam sejarah panjang konflik yang belum kunjung usai ini.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0