Gelombang Bantuan Malaysia Mendarat, Aceh Terima 3 Ton Logistik

Bantuan tiga ton dari Malaysia tiba di Aceh untuk korban banjir dan longsor, mencakup obat-obatan, pakaian anak, cokelat, dan tenaga medis.

Dec 11, 2025 - 07:34
 0
Gelombang Bantuan Malaysia Mendarat, Aceh Terima 3 Ton Logistik
Bantuan internasional gelombang kedua kembali datang untuk korban banjir Aceh. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)

Aceh - Bantuan kemanusiaan dari Malaysia kembali mengalir ke Aceh menyusul bencana banjir dan longsor yang menerjang sejumlah wilayah dalam beberapa pekan terakhir. Sebanyak tiga ton bantuan terdiri atas dua ton obat-obatan, serta satu ton cokelat dan pakaian anak-anak, tiba di Aceh sebagai bagian dari gelombang kedua dukungan internasional. Bantuan tersebut juga mencakup kehadiran dokter dan perawat dari Malaysia yang siap diturunkan ke lapangan.

Bantuan ini diumumkan langsung oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, atau yang akrab disapa Mualem, dalam jumpa pers di Meuligoe Gubernur Aceh pada Rabu (10/12) malam. Menurutnya, seluruh bantuan kini telah dipindahkan dari Kuala Lumpur menuju Aceh dan siap didistribusikan ke daerah-daerah yang membutuhkan.

“Sudah sampai bantuan dari Kuala Lumpur, yaitu 3 ton untuk kita bagibagikan ke beberapa kabupaten/kota bersama dokter dan perawat. Obat-obatan 2 ton, 1 ton cokelat dan pakaian untuk anak-anak,” ujar Mualem.

Dalam keterangannya, Mualem menegaskan bahwa obat-obatan menjadi kebutuhan paling mendesak saat ini. Seiring bertambahnya jumlah pengungsi, berbagai keluhan kesehatan mulai muncul. Banyak pengungsi tercatat mengalami penyakit kulit, gatal-gatal, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga demam akibat kondisi tempat tinggal sementara yang padat dan minim fasilitas sanitasi.

“Ini saya rasa paling banyak membutuhkan obat-obatan. Apalagi sekarang masyarakat kita sudah terdampak,” tegasnya.

Tim medis dari Malaysia dijadwalkan akan bergerak ke beberapa titik pengungsian untuk memberikan bantuan kesehatan langsung, termasuk pelayanan medis dasar dan distribusi obat-obatan.

Sebelumnya, Mualem telah menyampaikan bahwa Aceh membuka pintu selebar-lebarnya bagi bantuan luar negeri yang ingin masuk membantu percepatan pemulihan pascabencana. Dirinya menegaskan tidak ada hambatan administratif ataupun politik dalam masuknya bantuan internasional.

Pernyataan ini disampaikan Mualem usai menghadiri rapat percepatan penanganan bencana di Sumatra yang digelar di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, pada Minggu (7/12).

“Saya rasa tidak ada larangan. Sah-sah saja, tidak ada masalah,” kata Mualem.

Ia menambahkan bahwa pemerintah Aceh tidak akan mempersulit proses kedatangan relawan maupun lembaga internasional yang ingin menyalurkan bantuannya.

“Mereka tolong kita, kok kita persulit?” tegasnya.

Sikap terbuka tersebut disambut positif oleh berbagai organisasi kemanusiaan di dalam dan luar negeri, yang sebelumnya menunggu kepastian regulasi untuk dapat bergerak cepat membantu Aceh.

Pemerintah Aceh kini tengah menyusun skema distribusi untuk memastikan seluruh bantuan tepat sasaran. Daerah-daerah yang paling parah terdampak banjir dan longsor akan menjadi prioritas utama. Tim logistik dari Pemerintah Aceh bekerja sama dengan TNI, Polri, BNPB, serta relawan lokal dan internasional.

Dalam tahap ini, distribusi obat-obatan akan difokuskan pada posko-posko pengungsian yang mencatat peningkatan kasus penyakit akibat lingkungan pengungsian yang lembap dan tidak bersih. Pakaian anak-anak dan cokelat akan diberikan sebagai bantuan tambahan untuk mengurangi trauma anak-anak pengungsi.

Masuknya bantuan Malaysia menandai meningkatnya koordinasi lintas negara dalam penanganan bencana di Aceh. Hubungan Aceh dan Malaysia sebelumnya juga dikenal dekat, terutama dalam aspek kemanusiaan. Pengiriman tenaga medis memperlihatkan dukungan moral dan teknis yang berkelanjutan, bukan sekadar pengiriman logistik.

Pemerintah Aceh berharap aliran bantuan dari negara sahabat dapat mempercepat pemulihan pascabencana dan mengurangi beban masyarakat yang kini masih tinggal di pengungsian.

Banjir dan longsor yang melanda sejumlah kabupaten/kota di Aceh dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan ribuan warga harus mengungsi. Beberapa infrastruktur penting seperti jembatan, jalan desa, dan fasilitas umum mengalami kerusakan berat. Kondisi cuaca yang tidak menentu juga menghambat akses logistik ke wilayah-wilayah terpencil.

Dengan masuknya bantuan dari Malaysia, pemerintah berharap distribusi dukungan dapat dilakukan lebih cepat, terutama pada wilayah yang aksesnya sulit akibat medan yang terputus.

Setelah gelombang kedua ini, Pemerintah Aceh membuka peluang untuk menerima lebih banyak bantuan dari negara sahabat lainnya. Prosedur penyambutan dan distribusi akan terus dipermudah selama memenuhi standar koordinasi nasional dan keamanan.

Tim medis Malaysia dijadwalkan bertugas selama beberapa hari hingga situasi kesehatan pengungsi dinilai stabil. Sementara itu, bantuan logistik lainnya akan dikonsolidasikan dalam gudang utama sebelum dikirimkan ke daerah-daerah yang membutuhkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0