Drone Hantam Pangkalan Militer Kolombia, Tiga Tentara Tewas dan 16 Terluka
Serangan drone di pangkalan militer Santa Rosa del Sur, Kolombia utara, menewaskan tiga tentara dan melukai 16 orang. Presiden Abelardo de la Espriella mengecam serangan dan berjanji pelaku akan bertanggung jawab. Hingga kini belum ada kelompok yang mengklaim serangan. Insiden ini bagian dari meningkatnya kekerasan terhadap aparat keamanan di wilayah pedesaan Kolombia.
Serangan udara tak berawak mengguncang pangkalan militer di Santa Rosa del Sur, Kolombia utara, pada Sabtu (7/11) waktu setempat. Akibatnya, tiga tentara tewas dan sedikitnya 16 orang lainnya mengalami luka-luka. Angkatan Bersenjata Kolombia membenarkan insiden tersebut, seperti dikutip Aljazeera pada Minggu (8/11).
Pangkalan militer yang diserang terletak di kota kecil Santa Rosa del Sur, di kaki pegunungan San Lucas. Wilayah ini dikenal kaya akan tambang emas dan telah lama menjadi rebutan berbagai kelompok bersenjata, termasuk Gulf Clan, Tentara Pembebasan Nasional (ELN), serta kelompok-kelompok kecil yang dipimpin mantan anggota Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC).
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang belum mengungkap kelompok yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan kepulan asap membubung dari pangkalan militer setelah tiga ledakan terjadi. Sejumlah tentara terlihat berlindung di balik benteng karung pasir.
Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella mengecam keras serangan itu dan memastikan para pelaku akan dimintai pertanggungjawaban. "Mereka yang berada di balik serangan ini... tidak akan punya tempat bersembunyi," tulis de la Espriella melalui akun X. "Setiap serangan terhadap prajurit kami justru memperkuat tekad kami untuk membela Kolombia."
Serangan ini menjadi aksi terbaru dalam rangkaian kekerasan terhadap aparat keamanan di Kolombia, seiring meningkatnya konflik di sejumlah wilayah pedesaan. Sejak de la Espriella menjabat pada Agustus 2026, pemerintahannya membatalkan perundingan damai dengan kelompok pemberontak dan menerapkan pendekatan konfrontatif melalui peningkatan serangan udara, pengerahan pasukan tambahan, serta pembentukan satuan tugas gabungan untuk melindungi aset strategis seperti pipa minyak yang membentang dari pesisir Karibia ke Kolombia tengah.
Pemerintah menilai kelompok-kelompok bersenjata telah memanfaatkan gencatan senjata pada masa pemerintahan sebelumnya untuk memperkuat pengaruh di wilayah pedesaan. Kelompok tersebut juga disebut memungut pajak dari bisnis lokal dan memperoleh keuntungan dari perdagangan narkoba. Sejumlah kelompok bersenjata kemudian meningkatkan serangan terhadap pasukan pemerintah sebagai respons atas kebijakan de la Espriella.
Pekan sebelumnya, pangkalan militer di Provinsi Tolima juga diserang menggunakan rudal rakitan dari tabung gas. Serangan itu menewaskan empat warga sipil, termasuk bayi berusia dua bulan. Sementara itu, kepolisian di kota perbatasan Cucuta beberapa kali menjadi sasaran bom yang diaktifkan dari jarak jauh.
Data lembaga pemantau konflik bersenjata ACLED mencatat pasukan pemerintah dan kelompok bersenjata ilegal melakukan 34 serangan menggunakan bom atau bahan peledak di Kolombia dalam empat minggu hingga 16 Oktober. Jumlah tersebut meningkat 9 persen dibandingkan rata-rata serangan dalam periode empat mingguan pada tahun lalu. Perjanjian damai dengan FARC pada 2016 sempat mendorong demobilisasi lebih dari 14 ribu pejuang, namun kelompok-kelompok bersenjata yang lebih kecil masih terus memperebutkan wilayah bekas kekuasaan pemberontak tersebut.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)