Banjir Bak Dinding Raksasa Hantam Nepal-Tibet, 403 Orang Belum Ditemukan
Banjir bandang dahsyat menerjang kawasan Himalaya di perbatasan Nepal dan Tibet. Sedikitnya 160 orang dilaporkan tewas dan 403 orang di Nepal masih belum diketahui keberadaannya, termasuk ratusan wisatawan asing.
KATHMANDU — Sahkato — Banjir bandang dahsyat menerjang kawasan Himalaya di perbatasan Nepal dan Tibet, Tiongkok, Rabu (26/8/2026), menyapu permukiman, kendaraan, jalan hingga sejumlah infrastruktur vital. Hingga Rabu malam, sedikitnya 160 orang dilaporkan meninggal dunia di Nepal dan Tibet, sementara ratusan orang lainnya masih belum diketahui keberadaannya.
Kepolisian Nepal melaporkan 157 jenazah telah ditemukan, sedangkan media pemerintah Tiongkok melaporkan sedikitnya tiga orang meninggal di wilayah Gyirong, Tibet. Operasi pencarian masih berlangsung di tengah medan pegunungan yang sulit dan kerusakan akses yang luas.
Bencana tersebut menerjang kawasan Rasuwa di Nepal utara, yang berbatasan langsung dengan Tibet. Gelombang air bercampur lumpur, batu, dan material longsoran mengalir dengan kecepatan tinggi menyusuri lembah dan aliran Sungai Bhote Koshi.
Rekaman yang beredar memperlihatkan derasnya arus berwarna cokelat pekat menghantam kawasan di sepanjang jalur sungai. Bangunan, kendaraan, serta infrastruktur lainnya terlihat tersapu dalam waktu singkat.
403 Orang Belum Diketahui Keberadaannya
Data Nepal Tourism Board menyebutkan 403 orang dilaporkan belum diketahui keberadaannya, dengan 341 di antaranya merupakan warga negara asing. Mereka termasuk wisatawan dan peziarah yang berada di kawasan perbatasan Nepal-Tibet ketika bencana terjadi.
Sebanyak 133 orang yang belum ditemukan disebut merupakan warga India yang melakukan perjalanan ziarah menuju Gunung Kailash di Tibet.
Data sementara juga mencatat warga negara Amerika Serikat, Australia, Inggris, Kanada, serta sejumlah negara lainnya termasuk di antara mereka yang belum ditemukan. Associated Press melaporkan 47 warga Amerika, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 24 warga Kanada masuk dalam daftar sementara tersebut.
Besarnya jumlah wisatawan yang berada di kawasan tersebut membuat proses identifikasi dan pencarian semakin kompleks. Pemerintah sejumlah negara juga mulai berkoordinasi dengan otoritas Nepal untuk mengetahui kondisi warga negaranya.
Longsoran Es dan Batu Diduga Jadi Pemicu
Penyebab pasti bencana masih dalam penyelidikan. Namun, analisis awal menunjukkan adanya longsoran besar berupa es dan batu yang masuk ke aliran Sungai Lhende sebelum memicu gelombang banjir bermuatan material padat.
Analisis citra satelit Planet Labs yang dikaji otoritas penanggulangan bencana Nepal menunjukkan longsoran salju dan batu diduga memicu banjir bermuatan puing di Lhende Khola, sekitar 20 kilometer timur laut dari kawasan perlintasan Rasuwagadhi di perbatasan Nepal-Tiongkok.
Pusat Penelitian Geosains Jerman atau GFZ juga mencatat gempa bermagnitudo 4,4 sekitar tujuh menit sebelum waktu yang terlihat pada rekaman kamera pengawas. Namun, belum dapat dipastikan apakah gempa tersebut menjadi penyebab langsung longsoran.
Karena itu, dugaan bahwa bencana dipicu gempa masih memerlukan kajian lebih lanjut. Para ahli sementara menilai longsoran es dan batu dari kawasan pegunungan merupakan pemicu utama yang lebih mungkin.
Infrastruktur Rusak, Operasi Penyelamatan Terkendala
Banjir menyebabkan kerusakan besar pada jalur transportasi, jaringan listrik, komunikasi, rumah penduduk hingga fasilitas pembangkit listrik.
Beberapa kawasan terdampak menjadi sulit dijangkau melalui jalur darat karena jembatan dan ruas jalan mengalami kerusakan atau tertutup material.
Tim penyelamat terpaksa mengandalkan helikopter untuk mencapai sejumlah lokasi, mengevakuasi korban, serta mendistribusikan bantuan.
Kondisi medan Himalaya yang terjal turut memperlambat operasi. Lumpur tebal dan material longsoran juga menghalangi akses menuju beberapa wilayah terdampak.
Bencana Menjalar hingga Tibet
Dampak bencana tidak hanya dirasakan Nepal. Di wilayah Tibet, Tiongkok, longsoran menerjang kawasan Gyirong County dan mengganggu akses menuju perlintasan perbatasan.
Televisi pemerintah Tiongkok CCTV melaporkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia dan 265 orang masih belum ditemukan di wilayah tersebut. Jalan, komunikasi, serta jaringan listrik juga dilaporkan mengalami gangguan.
Ratusan personel penyelamat dan kendaraan darurat dikerahkan untuk mencari korban serta membuka kembali akses menuju kawasan yang tertutup material.
Operasi Pencarian Terus Dilakukan
Pemerintah Nepal bersama aparat keamanan, petugas penyelamat, serta berbagai lembaga terkait masih melakukan pencarian terhadap warga dan wisatawan yang belum ditemukan.
Bencana ini menjadi salah satu kejadian paling mematikan yang melanda kawasan Himalaya dalam beberapa waktu terakhir. Dengan banyaknya korban yang belum ditemukan serta sejumlah wilayah yang masih sulit dijangkau, angka korban berpotensi berubah seiring berjalannya operasi pencarian.
Otoritas juga terus mengkaji penyebab bencana untuk mengetahui hubungan antara longsoran es-batu, kondisi gletser, aktivitas geologi, dan karakteristik kawasan pegunungan Himalaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)