Utang AS Tembus Rp712 Ribu Triliun, Siapa di Balik Pinjaman Raksasa Ini?

Utang pemerintah AS mencapai rekor US$40 triliun (Rp712 ribu triliun) pada Agustus 2026. Sebagian besar dipegang investor domestik. Defisit anggaran dan biaya bunga yang melonjak menjadi perhatian, dengan proyeksi utang bisa menembus US$50 triliun dalam enam tahun.

Sep 04, 2026 - 12:06
Updated: 2 months ago
0
Utang AS Tembus Rp712 Ribu Triliun, Siapa di Balik Pinjaman Raksasa Ini?
Utang AS Tembus Rp712 Ribu Triliun, Siapa di Balik Pinjaman Raksasa Ini?

Jakarta, CNN Indonesia -- Utang pemerintah Amerika Serikat (AS) menembus angka fantastis US$40 triliun atau setara Rp712 ribu triliun (kurs Rp17.800 per dolar AS) pada Agustus 2026. Capaian ini menjadi rekor baru dalam sejarah pinjaman Negeri Paman Sam, menandakan beban fiskal yang semakin berat bagi perekonomian terbesar dunia tersebut.

Berdasarkan data Departemen Keuangan AS, dari total utang tersebut, sekitar US$32,3 triliun merupakan utang yang dipegang publik, sementara US$7,8 triliun lainnya merupakan utang antar instansi pemerintah. Artinya, mayoritas utang AS berada di tangan investor dan lembaga domestik melalui penerbitan surat utang yang dibeli oleh bank, perusahaan investasi, dana pensiun, hingga individu.

Ledakan utang ini didorong oleh sejumlah faktor struktural, salah satunya pergeseran demografi akibat penuaan populasi. Setiap harinya, sekitar 10 ribu generasi Baby Boomers pensiun, memaksa kas negara menggelontorkan belanja jumbo untuk program Jaminan Sosial dan Medicare di tengah menyusutnya rasio tenaga kerja produktif.

Kondisi ini diperparah oleh kebijakan fiskal Kongres AS selama beberapa dekade terakhir yang gencar memangkas pajak tetapi tetap menggenjot belanja. Kebijakan tersebut mencakup Tax Cuts and Jobs Act 2017, paket One Big Beautiful Bill 2025 di era Donald Trump, hingga stimulus penanganan pandemi Covid-19 di era Trump dan Joe Biden.

Kementerian Keuangan AS juga mencatat defisit anggaran pemerintah telah menembus US$1,8 triliun atau setara Rp32,05 ribu triliun hanya dalam 10 bulan pertama tahun fiskal berjalan. Tingginya tumpukan utang yang berbarengan dengan tren suku bunga tinggi kini memicu ledakan biaya bunga pinjaman hingga diproyeksikan melampaui US$1 triliun atau Rp17,8 ribu triliun dalam setahun.

"Jika terus seperti ini, utang kita akan mencapai US$50 triliun hanya dalam enam tahun. Jika kita melihat ke belakang, utang kita masih US$20 triliun kurang dari 10 tahun yang lalu," ujar CEO Peter G. Peterson Foundation Michael Peterson. "Kita benar-benar membahayakan perekonomian dan masa depan negara kita," tambahnya.

Tekanan utang senilai Rp712 ribu triliun ini mulai merembet ke pasar obligasi dengan melonjaknya imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS, termasuk US Treasury tenor 30 tahun yang menyentuh level tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield tersebut langsung mengerek suku bunga kredit perumahan atau hipotek, cicilan kendaraan, hingga pinjaman modal usaha bagi masyarakat.

Presiden CRFB Maya MacGuineas menegaskan ancaman fiskal ini pada akhirnya akan memukul langsung dompet konsumen secara luas. "Utang sebesar US$40 triliun tidak hanya tercatat di pembukuan pemerintah. Utang tersebut dirasakan di seluruh perekonomian dan pada akhirnya akan berdampak pada dompet masyarakat dengan satu atau lain cara," ungkap MacGuineas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User