Tiga Kunci Wujudkan Keamanan Siber AI di Indonesia, Wamenkomdigi Beberkan Langkahnya

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengungkap tiga aspek penting untuk mewujudkan sistem keamanan siber berbasis AI (AI driven security) di Indonesia: regulasi adaptif, pertukaran informasi, dan pengembangan talenta digital. Kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci utama.

Sep 02, 2026 - 00:57
Updated: 2 months ago
0
Tiga Kunci Wujudkan Keamanan Siber AI di Indonesia, Wamenkomdigi Beberkan Langkahnya
Tiga Kunci Wujudkan Keamanan Siber AI di Indonesia, Wamenkomdigi Beberkan Langkahnya

Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria membeberkan tiga aspek krusial yang harus dipenuhi untuk mewujudkan sistem keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI driven security) di Indonesia. Ketiga aspek tersebut mencakup regulasi yang adaptif, pertukaran informasi, hingga pembangunan talenta digital yang mumpuni.

Dalam acara Kaspersky Academy Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu (19/8), Nezar menegaskan bahwa ketiga aspek tersebut tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi aktif dari berbagai pihak, termasuk industri, akademisi, dan komunitas masyarakat.

Aspek pertama adalah penciptaan regulasi yang adaptif dan kolaboratif. Pemerintah, menurut Nezar, secara aktif membuka ruang bagi para pemangku kepentingan untuk terlibat dalam penyusunan aturan. Hal ini terlihat dalam pembentukan peraturan pelaksana Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (PDP) dan Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS).

"Kami mengundang para pemangku kepentingan untuk berbagi pengalaman di lapangan, bukti, dan keahlian mereka agar kerangka regulasi kami tetap praktis, adaptif, dan didasarkan pada risiko nyata di lapangan," ujar Nezar.

Aspek kedua adalah pertukaran informasi yang rutin antara industri dan lembaga nasional. Hal ini penting untuk memahami pola serangan siber dan mengembangkan solusi AI yang mampu mendeteksi serta mencegah serangan. Solusi tersebut diharapkan tidak hanya untuk bisnis besar, tetapi juga dapat digunakan masyarakat umum, seperti layanan penyaring panggilan telepon, pemeriksaan identitas palsu, dan sistem verifikasi pemerintah.

Terakhir, aspek ketiga adalah pengembangan talenta digital. Nezar menekankan bahwa sumber daya manusia adalah faktor terpenting dalam mewujudkan AI driven security. Ia mengajak universitas dan mitra industri untuk menumbuhkan talenta di bidang keamanan siber, termasuk untuk mengisi posisi-posisi strategis.

"Saya juga mengajak komunitas masyarakat dan industri untuk memperluas jangkauan literasi digital khususnya pada masyarakat rentan seperti pengguna internet pemula, kalangan pensiunan, hingga pemilik bisnis kecil. Mereka sangat rentan menjadi korban kejahatan siber," kata Nezar.

Pentingnya AI driven security sejalan dengan laporan Global Cybersecurity Outlook 2026 dari World Economic Forum yang menyebut bahwa 9 dari 10 pemimpin bisnis menilai AI berpengaruh pada kerentanan keamanan siber. Oleh karena itu, dukungan terhadap pengembangan AI driven security menjadi kunci agar teknologi hadir sebagai pengaman, bukan ancaman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User