Singapura Serius Kaji Nuklir Usai Indonesia Pangkas Pasokan Gas, Keselamatan Jadi Prioritas
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan pemerintahnya serius mengkaji energi nuklir sebagai sumber listrik yang lebih bersih dan andal. Pernyataan ini muncul setelah Indonesia memangkas ekspor gas ke Singapura. Wong menegaskan keselamatan menjadi prioritas utama dan berharap semua pihak menghormati komitmen kontrak komersial yang telah disepakati.
Singapura tengah mempertimbangkan energi nuklir sebagai salah satu opsi untuk memenuhi kebutuhan listrik yang lebih bersih dan stabil. Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan pemerintahnya serius mengkaji potensi tersebut, terutama karena negara itu masih sangat bergantung pada gas alam.
Pernyataan Wong disampaikan dalam pidatonya di konferensi Partai Aksi Rakyat (PAP) pada Minggu (25/10). Menurut dia, Singapura perlu mencari sumber energi di luar gas alam agar pasokan listrik tetap terjamin sepanjang waktu.
"Kita juga perlu sumber energi yang lebih bersih untuk menyediakan listrik yang andal sepanjang waktu. Itulah sebabnya kita sedang serius mengkaji potensi energi nuklir," kata Wong, seperti dikutip dari Channel NewsAsia (CNA).
Meski demikian, Wong mengakui bahwa pemanfaatan energi nuklir menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Sebagai negara kecil dengan kepadatan penduduk tinggi, Singapura disebutnya akan sangat berhati-hati dalam mempertimbangkan aspek keselamatan sebelum mengambil keputusan.
"Keselamatan harus menjadi yang utama," ujarnya. Wong menilai pemerintah tidak seharusnya langsung menutup peluang penggunaan suatu sumber energi hanya karena pilihan itu sulit atau kontroversial. Pemerintah, lanjutnya, perlu mengkaji risiko dan konsekuensi setiap opsi secara cermat serta melibatkan masyarakat sebelum menentukan langkah untuk mengamankan kebutuhan energi masa depan Singapura.
Pernyataan soal diversifikasi energi ini muncul setelah Indonesia mengumumkan pemangkasan ekspor gas ke Singapura pada Sabtu (24/10). Wong menyebut sebagian besar listrik Singapura saat ini masih dihasilkan dari gas alam, dan negara itu mengimpor sebagian besar kebutuhan gasnya melalui jaringan pipa dari Indonesia.
Di tengah pengurangan pasokan tersebut, Wong menegaskan seluruh pihak diharapkan tetap memenuhi kewajiban dalam kontrak komersial yang telah disepakati. "Kami berharap semua pihak menghormati komitmen mereka. Importir gas Singapura akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak tersebut," kata Wong.
Singapura disebut telah mengantisipasi risiko gangguan pasokan dengan berinvestasi dalam pembangunan terminal gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG). Infrastruktur itu memungkinkan Singapura mengimpor gas dari berbagai negara tanpa sepenuhnya bergantung pada jaringan pipa. "Dengan begitu, kami memiliki lebih banyak pilihan untuk mengatasi gangguan apa pun terhadap pasokan gas," ujarnya.
Singapura menyebut pemangkasan ekspor Indonesia mencakup kurang dari 2 persen kebutuhan gasnya dari Indonesia. Meski porsinya terbatas, situasi ini turut menyoroti pentingnya diversifikasi sumber energi bagi negara yang masih mengandalkan gas alam untuk pembangkit listrik. Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Energi dan Transisi Hilirisasi Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah Indonesia akan mengevaluasi kebijakan ekspor energi, termasuk membuka kemungkinan menghentikan ekspor ke negara yang dinilai tidak menghormati Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)