Eisenkot Beberkan Rencana Besarnya jika Terpilih Jadi PM Israel, Singgung Hubungan dengan Trump
Pemimpin oposisi Israel Gadi Eisenkot menyatakan siap memperkuat hubungan Israel-Amerika Serikat jika terpilih sebagai perdana menteri. Ia berjanji memperbarui kemitraan dan siap bekerja sama dengan pemerintahan Presiden Donald Trump. Pernyataan ini muncul sehari setelah para pemimpin oposisi merekomendasikan Eisenkot sebagai calon PM kepada Presiden Isaac Herzog dan sepakat membentuk pemerintahan darurat nasional.
Pemimpin oposisi Israel, Gadi Eisenkot, membuka peluang besar untuk memperkuat hubungan negaranya dengan Amerika Serikat apabila ia dipercaya memimpin sebagai perdana menteri. Komitmen itu ia sampaikan melalui pernyataan di media sosial X pada Rabu (4/11), dengan menekankan bahwa relasi Israel dan AS selama ini telah melampaui kepentingan pemerintahan mana pun.
Menurut Eisenkot, hubungan kedua negara dibangun di atas fondasi nilai-nilai demokrasi serta kepentingan keamanan bersama. Karena itu, jika ia menjadi PM, ia bertekad memperbarui dan memperdalam kemitraan tersebut, termasuk memperkuat fondasi bipartisan yang selama ini menopangnya.
Eisenkot juga menyatakan kesiapan bekerja sama dengan Washington di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Ia berharap dapat menjalin kerja sama yang erat dan konstruktif dengan Trump serta pemerintahannya, seraya menegaskan bahwa persahabatan dan komitmen AS terhadap Israel sangat dihargai.
Dalam pernyataannya, Eisenkot menegaskan bahwa Israel akan tetap menjadi salah satu mitra strategis AS yang paling dapat diandalkan di kawasan Timur Tengah. Pernyataan itu ia sampaikan sehari setelah para pemimpin oposisi sepakat merekomendasikan dirinya sebagai calon PM baru Israel kepada Presiden Isaac Herzog.
Para pemimpin oposisi tersebut juga menyepakati dimulainya negosiasi koalisi dan pembentukan pemerintahan darurat nasional. Skema ini diambil untuk menggalang koalisi luas, termasuk dengan faksi Haredi dan Arab, sehingga partai-partai yang secara ideologis berseberangan dapat bekerja sama, terutama demi memulihkan keamanan, perekonomian, dan demokrasi.
Blok oposisi Eisenkot terdiri dari mantan PM Naftali Bennett, pemimpin oposisi Yair Lapid, pemimpin Yisrael Beytenu Avigdor Lieberman, dan pemimpin Demokrat Yair Golan. Kubu ini hanya meraih 48 kursi dalam pemilu parlemen pekan lalu, sementara pembentukan pemerintahan membutuhkan sedikitnya 61 kursi dari total 120 kursi di Knesset.
Tambahan kursi dari faksi Arab, yang secara mengejutkan meraup 19 kursi, berpotensi membantu Eisenkot menyingkirkan Netanyahu. Partai-partai Arab sendiri telah menyatakan kesediaan bekerja sama dengan kubu Eisenkot.
Di Israel, hasil perhitungan suara pemilu parlemen diserahkan kepada presiden, yang kemudian mengumpulkan para pemimpin partai lolos untuk menentukan kandidat PM. Setelah ditunjuk, calon PM wajib membentuk kabinet dalam 28 hari, dengan perpanjangan maksimal 14 hari bila diperlukan. Jika gagal, mandat dialihkan kepada kandidat lain, dan apabila semua upaya gagal, Israel harus menggelar pemilu ulang.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)