Celah Kritis PHP Terdeteksi AI, Situs Pemerintah di Berbagai Negara Terpaksa Offline
Pakar keamanan menemukan celah kritis pada PHP yang tersembunyi lebih dari satu dekade dan terdeteksi berkat bantuan AI. Kerentanan CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619 berpotensi memungkinkan eksekusi kode jarak jauh. PHP Foundation merilis pembaruan, FBI mengimbau langkah pengamanan, dan sejumlah situs pemerintah memilih menonaktifkan layanan sementara.
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah celah keamanan siber bertingkat kritis ditemukan pada PHP, bahasa pemrograman open source yang telah menjadi tulang punggung sebagian besar situs web dunia selama lebih dari 30 tahun. Temuan ini memicu kekhawatiran luas dan membuat sejumlah organisasi memilih menonaktifkan situsnya untuk sementara waktu.
Kerentanan tersebut ditemukan oleh pakar dari dua perusahaan keamanan siber, Calif dan Wiz. Menariknya, celah yang telah tersembunyi lebih dari satu dekade itu terungkap berkat bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI). Calif mendeteksinya pada 1 Agustus menggunakan large language model (LLM), sementara Wiz memanfaatkan Wiz Atlas berbasis AI, Google Gemini 4 Argon, dan OpenAI GPT-5.6 Sol.
Dua kerentanan yang diberi kode CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619 itu berpotensi memungkinkan pelaku kejahatan siber menjalankan kode dari jarak jauh di inti PHP. Dampaknya bisa membahayakan data sensitif dan jaringan. Kemampuan AI dalam mendeteksi celah yang lama tak disadari ini juga menimbulkan kekhawatiran bahwa teknologi serupa dapat disalahgunakan peretas untuk mengeksploitasi kerentanan.
PHP sendiri digunakan oleh berbagai sistem manajemen konten populer seperti WordPress, Drupal, Joomla, dan Magento. Oleh karena itu, kekhawatiran terutama diarahkan pada situs web lembaga pemerintah yang menyimpan data sensitif. Banyak pengelola situs memilih langsung menonaktifkan layanannya sebagai langkah pencegahan setelah muncul peringatan bahwa peretas mulai memanfaatkan celah tersebut.
PHP Foundation pada Rabu (21/10) mengeluarkan seruan pengamanan untuk mencegah pembobolan. Mereka juga telah merilis versi PHP terbaru, yakni PHP 8.5.12, 8.4.27, 8.3.36, dan 8.2.35, guna menangani kerentanan ini. Pada hari yang sama, lembaga keamanan siber di berbagai negara mengimbau pengguna PHP untuk segera menerapkan pembaruan atau menonaktifkan situs sementara hingga perbaikan tuntas.
FBI melalui unggahan di X pada Rabu (21/10) turut mendesak seluruh organisasi pemerintahan dan pengelola situs web berbasis PHP untuk mengambil langkah pengamanan. Jika pembaruan segera tidak memungkinkan, disarankan menonaktifkan sistem hingga masalah teratasi sepenuhnya.
FBI merinci beberapa langkah yang perlu diambil. Pertama, segera perbarui instalasi PHP sesuai panduan di php.net. Periksa di mana PHP berjalan di server dan prioritaskan sistem yang terhubung langsung ke internet. Kedua, pantau aktivitas mencurigakan di server, termasuk proses PHP yang meluncurkan command shell atau mengunduh file secara tidak terduga, untuk mengidentifikasi potensi eksploitasi.
Jika menemukan tanda-tanda pembobolan, FBI menyarankan agar sistem yang terpengaruh segera diisolasi dan menyimpan log server web serta log PHP untuk pelaporan. Laporan tersebut nantinya dapat membantu identifikasi pelaku dan menjadi peringatan bagi sistem lainnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)