Api Makin Dekat, Lukisan Gua Tertua Dunia di Sulawesi Terancam Panas dan Asap Karhutla
Kebakaran hutan di Sulawesi mengancam lukisan gua tertua dunia berusia lebih dari 67 ribu tahun di Maros-Pangkep dan Muna. Api sempat mendekat hingga 800 meter dari gua, sementara panas dan asap berisiko mempercepat korosi serta menutupi lukisan dengan jelaga. Peneliti memperingatkan tanpa mitigasi taktis, bukti sejarah manusia itu bisa hilang.
Kebakaran hutan yang melanda sejumlah wilayah di Sulawesi tidak hanya berdampak pada kehidupan warga sekitar. Peninggalan prasejarah berupa lukisan gua tertua di dunia yang diperkirakan berusia lebih dari 67 ribu tahun kini ikut berada dalam ancaman panas dan asap.
Para peneliti dari Griffith University Australia menyebut lukisan yang menggambarkan sosok mirip manusia dan seekor babi di sebuah gua di Maros-Pangkep berusia setidaknya 51.200 tahun. Selain itu, terdapat cetakan tangan berwarna merah di sebuah gua di Muna, lepas pantai Sulawesi, yang diperkirakan berusia 67.800 tahun.
Menurut laporan Reuters, petugas pemadam kebakaran Muhammad Ikfar mengatakan api telah membakar kawasan itu selama lebih dari sepekan pada awal Oktober dan menjalar hingga berjarak sekitar 800 meter dari gua. Lebih dari 270 hektare hutan di taman nasional atau Geopark Maros-Pangkep terbakar sejak 30 September hingga 18 Oktober.
Asap dari kebakaran terlihat mengepul hingga ke atas perbukitan karst yang menjadi taman nasional dan Geopark Global UNESCO tersebut. Kondisi lahan yang cenderung kering serta hujan yang belum turun sejak api menyebar turut menyulitkan proses pemadaman pada Kamis (22/10) dan Jumat (23/10).
Arkeolog Griffith University Basran Burhan menjelaskan dampak pertama dan paling merusak adalah panas. Bahkan tanpa api langsung menyentuh lukisan, panas dapat merusaknya karena mengubah suhu di sekitar lukisan dan mempercepat proses korosi.
Selain panas, asap hasil kebakaran berisiko menghasilkan jelaga berupa pecahan karbon halus berwarna hitam pekat. Menurut Burhan, jelaga tersebut dapat menutupi lukisan sehingga membuatnya buram dan sulit dikenali.
Indonesia sendiri menghadapi kebakaran hutan dan lahan terparah dalam satu dekade terakhir akibat fenomena El Nino yang meningkatkan suhu dan mengurangi curah hujan. Kondisi itu memicu kekeringan panjang selama musim kemarau 2026 dan membuat hutan serta lahan gambut di banyak wilayah rentan terbakar, terutama di Sumatera dan Kalimantan.
Burhan memperingatkan, tanpa upaya mitigasi taktis terhadap insiden ini, salah satu bukti sejarah manusia paling menakjubkan di Maros-Pangkep bisa hilang. "Jika kita tidak segera melakukan sesuatu mengenai hal ini, jika tidak ada upaya mitigasi taktis untuk insiden ini, kita akan kehilangan salah satu bukti sejarah manusia yang paling menakjubkan di Maros-Pangkep. Dan itu sangat disayangkan," tegasnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)