38 Kali Klaim Menang Lawan Iran, Trump Jadi Bahan Olok-olok Media AS dan Israel
Sejak perang dengan Iran dimulai Februari lalu, Presiden AS Donald Trump telah 38 kali mengklaim kemenangan atau perang hampir usai. Klaim tersebut justru menuai olok-olok dari media AS dan Israel, termasuk The Guardian, NBC News, dan Times of Israel, karena kenyataannya konflik masih berlanjut dan ancaman terus dilontarkan.
Jakarta, CNN Indonesia -- Klaim kemenangan yang berulang kali disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam perang melawan Iran bersama Israel sejak Februari lalu justru menjadi bahan olok-olok sejumlah media asing, termasuk media Israel. The Guardian, NBC News, CNN Internasional, dan Times of Israel menyoroti pernyataan Trump yang dinilai tidak sesuai kenyataan.
NBC News pada Juli lalu membuat judul besar yang menyebut Trump telah 32 kali menyatakan perang di Iran hampir berakhir. Namun, hingga kini konflik masih berlangsung. Media yang berbasis di New York itu menulis bahwa tinjauan mereka menemukan puluhan contoh di mana Trump mengatakan perang telah dimenangkan atau hampir dimenangkan, yang kerap diikuti ancaman aksi militer lebih lanjut.
The Guardian, media asal Inggris, juga menyoroti kebiasaan Trump yang berulang kali mengancam Iran dengan konsekuensi mengerikan jika Teheran tidak mau berunding. Trump juga sering mengklaim kesepakatan damai 'sudah dekat', tetapi tanpa hasil nyata. The Guardian mengutip data CNN Internasional yang mencatat klaim Trump mencapai 38 kali sejak Juni lalu, dan jumlah itu diperkirakan bertambah hingga Agustus.
Lebih dari enam bulan perang berlangsung, belum ada tanda negosiasi akan membuahkan perdamaian. Iran terus menolak tuntutan Trump, sementara AS memblokade pengiriman dan pelabuhan Iran untuk menekan ekonomi Teheran. Times of Israel bahkan mengolok-olok gaya Trump yang kerap agresif namun mundur di menit-menit terakhir, sambil mengklaim ancamannya memicu kemajuan.
Times of Israel membeberkan sejumlah contoh ancaman Trump sejak April. Pada awal April, AS dan Iran sepakat gencatan senjata dua minggu, diumumkan kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Trump. Trump sempat mengancam akan menyerang jembatan dan pembangkit listrik Iran, yang menurutnya akan berarti 'seluruh peradaban akan mati'.
Pada 18 Mei, Trump mengumumkan penundaan serangan militer besar karena 'negosiasi serius' sedang berlangsung, dan memuji sekutu Teluk yang membujuknya untuk menahan diri. Kemudian pada Juni, Trump mengancam akan menyerang Iran 'SANGAT KERAS' dan merebut pangkalan energi di Pulau Kharg untuk menguasai pasar minyak dan gas, namun membatalkan serangan tersebut setelah mengklaim kemajuan negosiasi dengan pemimpin Iran.
Klaim terbaru Trump adalah soal penguasaan Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah mengalahkan Iran. Namun, The Guardian meragukan keseriusan pernyataan itu dan menilai belum jelas apakah itu menandakan kebijakan baru pemerintahannya. Media tersebut menulis, 'Keseriusan pernyataan Trump, dan apakah itu menandakan posisi kebijakan baru bagi pemerintahannya, belum jelas secara langsung.'
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)