Trump dan Netanyahu Masih Bahas Rencana Serang Iran di Tengah Dukungan yang Menurun

Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu berdiskusi via telepon soal rencana serangan ke Iran. Netanyahu mendesak serangan dilancarkan setelah pemilu sela AS, sementara Trump memilih membiarkan negosiasi berjalan. Pembicaraan ini terjadi saat keduanya menghadapi penurunan dukungan: blok Netanyahu hanya meraih 53 kursi Knesset, dan Partai Demokrat diprediksi menang besar di pemilu sela AS.

Nov 02, 2026 - 04:02
Updated: 9 hours ago
0
Trump dan Netanyahu Masih Bahas Rencana Serang Iran di Tengah Dukungan yang Menurun
Trump dan Netanyahu Masih Bahas Rencana Serang Iran di Tengah Dukungan yang Menurun

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar pembicaraan melalui telepon pada Sabtu (31/10) untuk membahas rencana serangan terhadap Iran. Informasi ini mengacu pada laporan media Axios yang mengutip pejabat AS dan Israel.

Dalam percakapan tersebut, Netanyahu mendesak Trump untuk segera melancarkan serangan ke Iran begitu pemilihan paruh waktu AS selesai. Namun, Trump disebut lebih memilih memberi ruang bagi proses negosiasi agar berjalan sesuai rencana. Sumber Israel menggambarkan pembicaraan itu sebagai "keras", sedangkan sumber Amerika menyebutnya "langsung".

Sepanjang perang yang telah berlangsung delapan bulan, Trump menerapkan dua pendekatan terhadap Teheran: kampanye serangan udara di satu sisi, dan upaya mencapai kesepakatan yang dapat memulai kembali pembicaraan perdamaian serta membuka penuh Selat Hormuz untuk lalu lintas minyak dan gas di sisi lain. Kepada wartawan pada Sabtu, Trump menegaskan negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri perang "berjalan lancar" dan masih ada satu atau dua target yang perlu "diselesaikan". Ia juga menekankan Washington tidak terburu-buru mengambil tindakan ofensif karena militer Iran dan program nuklirnya telah dihancurkan.

Di tengah dinamika tersebut, kedua pemimpin sedang menghadapi penurunan dukungan dari rakyatnya masing-masing. Pemilu Israel yang digelar 27 Oktober lalu belum otomatis mengembalikan Netanyahu ke kursi perdana menteri. Meski menang tipis, blok Netanyahu hanya mengamankan 53 kursi di Knesset, sementara blok mantan panglima militer Israel Gadi Eisenkot meraih 48 kursi. Partai-partai Arab memegang 19 kursi, jumlah tertinggi yang pernah mereka peroleh. Capaian ini menurun dibandingkan 2022 ketika blok Netanyahu meraih 68 kursi.

Pemilu tersebut menjadi yang pertama sejak serangan kelompok milisi Hamas pada 7 Oktober 2023 dan dimulainya agresi ke Jalur Gaza. Hasilnya membuat peluang Netanyahu kembali memimpin Israel bergantung pada kemampuannya melobi dan membentuk koalisi dengan partai lain. Partai-partai Arab pun disebut bisa menjadi penentu arah pembentukan pemerintahan Israel berikutnya.

Sementara itu, di Amerika Serikat, pemilu sela akan digelar Selasa (3/11). Popularitas Trump sedang anjlok dan Partai Demokrat diprediksi menang. Partai Republik berupaya mencegah dominasi Demokrat dalam pemungutan suara kali ini.

Jajak pendapat NBC News pada Minggu menunjukkan Demokrat akan menguasai Kongres dengan 52 persen suara, sedangkan Republik 45 persen. Sejumlah survei memperkirakan Demokrat hampir pasti merebut mayoritas kursi Dewan Perwakilan Rakyat dari Republik, dan berpeluang memenangkan Senat. Survei NBC juga menyebut 60 persen responden tidak setuju dengan kinerja Trump, terutama terkait kenaikan harga akibat perang melawan Iran.

Pakar jajak pendapat dari Hart Research Associates, Jeff Horwitt, menilai banyak pemilih khawatir dengan kondisi ekonomi AS saat ini. "Pemerintahan Trump bisa disimpulkan sebagai janji dua tahun lalu dan bahaya dua hari dari sekarang," ujarnya. Kemenangan besar Demokrat dinilai dapat menjadi awal era pasca-Trump dan membuka jalan menuju pemilihan presiden 2028.

Pada Minggu (1/11), Trump menggelar rapat umum untuk mendukung kandidat Republik di Iowa dan Kansas. Dalam kampanye itu, ia menyebut Demokrat akan mengubah AS menjadi negara komunis dan menjanjikan setiap orang memperoleh US$5.000 jika partainya menang. "Kita akan menang. Demokrat radikal ekstrem dan berbahaya yang akan mencuri kekayaan Anda," kata Trump di Iowa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User