Ribuan Gempa Susulan Masih Guncang NTT, Ini Penjelasan Ilmiah Ahli

BMKG mencatat 5.012 gempa susulan pasca gempa M7,7 di Flores, NTT. Ahli menjelaskan gempa susulan adalah proses alamiah bumi untuk mencapai keseimbangan, frekuensinya menurun seiring waktu, namun potensi kerusakan tetap ada. Diprediksi berlangsung 3-4 minggu.

Aug 28, 2026 - 06:00
Updated: 2 months ago
0
Ribuan Gempa Susulan Masih Guncang NTT, Ini Penjelasan Ilmiah Ahli
Ribuan Gempa Susulan Masih Guncang NTT, Ini Penjelasan Ilmiah Ahli

Jakarta - Rentetan gempa susulan pasca gempa bumi berkekuatan M7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terus berlanjut hingga Sabtu (22/8). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 5.012 gempa susulan hingga pukul 05.00 WIB, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2.

Dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 31 gempa memiliki magnitudo di atas 5, dan 124 gempa di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Magnitudo terkecil yang tercatat adalah 1,1. Data ini dihimpun BMKG dan disampaikan melalui akun Instagram resmi @infobmkg.

Lantas, mengapa gempa susulan masih terus terjadi dalam jumlah besar setelah gempa utama? Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa gempa susulan merupakan bagian dari proses alamiah bumi untuk kembali mencapai keseimbangan setelah terjadinya gempa utama.

Secara teknis, gempa utama terjadi ketika energi yang terkumpul pada retakan batuan atau patahan melampaui batas elastisitasnya, sehingga batuan patah dan bergeser secara tiba-tiba. Namun, patahan yang mengalami robekan besar tidak langsung stabil. Bidang rekahan tersebut masih menyisakan titik-titik tegangan yang memicu pergeseran pada batuan di sekitarnya.

"Gempa susulan pada hakikatnya adalah penyesuaian mekanis mikro saat batuan di sekitar bidang patahan tersebut bergeser perlahan untuk mencari posisi kestabilan baru," kata Daryono. Proses ini membuat gempa susulan dapat terjadi berulang kali, dan secara ilmiah dikenal melalui Hukum Omori-Utsu yang menyatakan bahwa frekuensi gempa susulan akan menurun seiring berjalannya waktu.

Artinya, jumlah gempa susulan paling banyak terjadi pada hari-hari awal setelah gempa utama, kemudian berangsur-angsur meluruh. Meski jumlahnya menurun, Daryono mengingatkan bahwa magnitudo satu atau dua gempa susulan masih bisa cukup besar dan berpotensi merusak bangunan yang strukturnya telah melemah akibat gempa utama.

Dari sisi redistribusi tegangan atau Coulomb stress change, gempa utama menyebabkan tekanan yang terkumpul di satu titik berpindah ke wilayah batuan di sekitarnya. "Pelepasan tekanan masif tersebut justru memindahkan sebagian tegangan sisa (Coulomb stress) ke area batuan di sekitarnya," ujarnya. Karena itu, rangkaian gempa susulan bukan berarti tekanan di wilayah tersebut terus membesar, melainkan menjadi bagian dari mekanisme kerak bumi untuk mengurai sisa tegangan dan menuju kondisi lebih stabil.

Daryono juga menjelaskan perbedaan antara gempa pembuka (foreshock), gempa utama (mainshock), dan gempa susulan (aftershock) yang ditentukan berdasarkan urutan waktu, lokasi, dan magnitudo relatif dalam satu kluster patahan. Status sebuah gempa bahkan dapat berubah setelah rangkaian gempa berikutnya terjadi. "Penentuan status ini selalu bersifat retrospektif atau hanya bisa dipastikan setelah peristiwa berlalu," katanya.

Untuk memastikan sebuah gempa termasuk aftershock, seismolog melihat lokasi gempa yang masih berada dalam zona patahan gempa utama dan pola kemunculannya yang mengikuti proses peluruhan energi. Selain itu, terdapat Hukum Båth yang menyatakan bahwa magnitudo gempa susulan terbesar umumnya sekitar 1,2 tingkat lebih kecil dibandingkan magnitudo gempa utama.

Daryono menegaskan bahwa gempa susulan merupakan konsekuensi mekanis yang lazim terjadi setelah gempa kuat, dan prosesnya dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. "Rangkaian gempa susulan adalah bagian alami dari proses pemulihan bumi," ujarnya. Meski demikian, masyarakat di wilayah terdampak tetap perlu waspada karena gempa susulan dengan magnitudo cukup besar masih dapat terjadi dan berpotensi merusak bangunan yang telah rusak sebelumnya.

Sementara itu, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengungkapkan bahwa rentetan gempa susulan ini diprediksi akan berlangsung hingga 3-4 minggu ke depan. Gempa utama terjadi di wilayah Flores pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB dengan parameter update M7,7, dan berdampak tsunami di wilayah sekitarnya. Gempa dangkal ini disebabkan oleh aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Saat gempa M7,7 terjadi, BMKG telah mengirimkan Peringatan Dini 1 pada 2 menit 16 detik setelah gempa dengan status ancaman Siaga (0.5-3 meter) dan Waspada (<0.5 meter).

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User