Psikolog Ungkap Alasan Anak di Bawah Umur Nekat Mencuri di Plaza Andalas, Bukan Sekadar Hukuman

Kasus pencurian oleh anak di bawah umur di Plaza Andalas, Padang, menjadi sorotan. Psikolog forensik UNP, Indriyani Santoso, menjelaskan bahwa perilaku anak belum didukung kesadaran penuh dan penalaran moral yang matang. Ia menekankan pentingnya peran orang tua, pengawasan lingkungan, serta pendampingan psikologis bertahap, bukan sekadar hukuman.

Sep 06, 2026 - 11:49
Updated: 2 months ago
0
Psikolog Ungkap Alasan Anak di Bawah Umur Nekat Mencuri di Plaza Andalas, Bukan Sekadar Hukuman
Psikolog Ungkap Alasan Anak di Bawah Umur Nekat Mencuri di Plaza Andalas, Bukan Sekadar Hukuman

Fenomena pencurian yang melibatkan anak-anak di bawah umur di Plaza Andalas, Kota Padang, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu memicu perdebatan publik. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar tentang pola asuh, pengaruh lingkungan, hingga langkah penanganan yang tepat bagi anak-anak yang terlibat.

Sebagian masyarakat mendesak agar anak-anak tersebut dihukum agar jera. Namun, pandangan lain menilai perilaku menyimpang ini tidak bisa dilepaskan dari faktor keluarga, lingkungan, dan kondisi psikologis anak yang perlu ditelusuri lebih dalam.

Dosen Psikologi Universitas Negeri Padang (UNP) yang mengampu mata kuliah Psikologi Forensik, Indriyani Santoso, menyoroti kasus ini karena pelakunya masih berusia anak. Berdasarkan informasi yang ia terima, sekelompok anak diduga masuk ke Plaza Andalas pada malam hari dan mencuri di sebuah toko ponsel.

Menurut Indriyani, perilaku menyimpang anak harus dibedakan dari kejahatan orang dewasa. Anak-anak belum memiliki kematangan kesadaran dan pertimbangan moral yang utuh. "Anak-anak dan remaja ini bisa dibilang belum mempunyai self-awareness yang penuh, kesadaran yang penuh ketika mereka melakukan suatu hal. Jadi penalaran moral mereka belum sepenuhnya tegak," jelasnya.

Ia menambahkan, anak belum mampu memahami konsekuensi tindakannya secara menyeluruh. Dalam kasus ini, ia menyoroti dugaan bahwa hasil curian digunakan untuk bersenang-senang, seperti bermain warnet, bukan untuk kebutuhan mendesak. Hal ini menjadi indikasi juvenile delinquency atau kenakalan anak.

Indriyani menjelaskan, perilaku anak tidak terlepas dari interaksi dengan lingkungan. Ia merujuk pada teori asosiasi diferensial yang menyatakan perilaku menyimpang dapat dipelajari melalui interaksi sosial. Anak yang bermain gadget tanpa pengawasan orang tua berisiko terpapar konten yang tidak sesuai usia, yang bisa memperkuat perilaku menyimpang.

Meski demikian, ia menekankan peran penting orang tua dalam memberikan aturan, pengawasan, dan teladan. "Bagaimanapun, anak-anak itu tanggung jawab orang tua. Misalnya, orang tua sibuk bekerja dan tidak bisa mengawasi anak-anak, paling tidak terapkan aturan, terapkan contoh-contoh yang baik, dan harus diawasi penggunaan gadget," ujarnya.

Indriyani menilai penanganan anak yang mencuri tidak cukup hanya dengan hukuman. Perlu penelusuran faktor latar belakang dan pendampingan psikologis secara bertahap. "Counseling-nya itu bertahap. Yang pertama, mereka harus bisa mengerti tentang batasan-batasan perilaku mereka. Yang kedua, mereka harus menyesali apa yang mereka perbuat," katanya.

Pendampingan sebaiknya dilakukan secara individual agar latar belakang setiap anak dapat dipahami lebih mendalam. "Supaya kita tahu juga kenapa dia seperti itu, latar belakangnya seperti apa, bagaimana orang-orang di sisinya, dan bagaimana cara dia bertahan setelah ini, supaya dia tidak melakukan hal tersebut lagi," pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User