Lebih dari 3 Tahun di Penjara, Imran Khan Dianggap Jadi Korban Konspirasi Militer Pakistan?
Mantan PM Pakistan Imran Khan telah mendekam lebih dari tiga tahun di penjara, sebagian besar dalam sel isolasi. Daniel Hannan, Presiden Institute of Economic Affairs, menyoroti kurangnya perhatian global terhadap nasib Khan dan berspekulasi tentang kemungkinan ia diracun atau disingkirkan oleh militer. Hannan menegaskan bahwa kejahatan sebenarnya Khan adalah potensinya memenangkan pemilu bebas, dan perjuangannya menjadi simbol demokrasi yang patut didukung.
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan telah menghabiskan lebih dari tiga tahun di balik jeruji besi, namun perhatian dunia terhadap kondisinya dinilai sangat minim. Daniel Hannan, Presiden Institute of Economic Affairs asal Inggris, menyoroti spekulasi yang berkembang setelah Khan dipindahkan dari sel isolasi ke rumah sakit.
"Apakah mantan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan sedang diracun secara perlahan? Ataukah otoritas militer Pakistan sedang menguji sejauh mana mereka bisa menyingkirkannya tanpa memicu perang saudara?" tanya Hannan, seperti dikutip dari The Telegraph.
Hannan, yang juga seorang penulis dan komentator politik, menyatakan kebingungannya atas kurangnya perhatian terhadap nasib Khan, terutama di kalangan warga Inggris keturunan Pakistan. Ia mengingatkan bahwa Khan adalah bagian dari Inggris, pernah bermain kriket untuk Universitas Oxford dan Worcestershire, serta menghabiskan masa mudanya di sana.
Perjalanan hidup Khan memang unik. Dari puncak karier kriketnya saat memimpin Pakistan meraih Piala Dunia 1992, ia memilih mendirikan rumah sakit kanker pertama di Pakistan dan kemudian mendirikan partai politiknya sendiri, Tehreek-e-Insaf (PTI), pada 1996. Langkah ini tidak biasa di Pakistan, di mana politik sering kali berbasis kedaerahan dan kesukuan.
Khan membangun PTI dari bawah, tanpa patronase tradisional. Dari hanya meraih 1,6 persen suara pada pemilu 1997, ia perlahan meyakinkan generasi muda Pakistan. Pada 2018, ia akhirnya memenangkan pemilu dan menjadi Perdana Menteri. Namun, perselisihannya dengan militer, kekuatan utama di Pakistan, menjadi titik balik.
Para jenderal, menurut Hannan, mendesain penghentian kekuasaan Khan melalui parlemen dan menjatuhkan serangkaian tuduhan pidana, seperti tidak mengumumkan hadiah diplomatik dan pelanggaran hukum pernikahan. Hannan menilai tuduhan-tuduhan itu tidak masuk akal, dan kejahatan sebenarnya Khan adalah potensinya memenangkan pemilu yang bebas.
"Kejahatan sebenarnya, sebagaimana dipahami semua orang, adalah bahwa ia akan memenangkan pemilu yang bebas. Setelah mengurungnya, para jenderal dan boneka sipil mereka tidak dapat membebaskannya tanpa berisiko dipenjara sendiri setelah ia menang," catatnya.
Keputusan Mahkamah Agung Pakistan memindahkan Khan ke rumah sakit, yang ditentang beberapa menteri, memunculkan teka-teki apakah ada perpecahan di pemerintahan atau hanya manuver pencitraan. Meski demikian, Khan yang kini menjalani kehidupan spiritual Sufi dinilai tidak ragu menghadapi risiko terburuk, karena popularitasnya terus meningkat.
Hannan menutup analisisnya dengan menegaskan arti penting perjuangan Khan bagi prinsip hukum dan demokrasi global. "Apa pun kesalahan yang dibuatnya saat menjadi PM, Khan adalah simbol demokratisasi di negara yang telah dijarah selama berdekade-dekade oleh junta militer... Seorang pria yang terhubung erat dengan negara (Inggris), harus membayar harga yang sangat mahal karena mempertahankan prinsip pemilu bebas di bawah supremasi hukum. Hal itu seharusnya cukup untuk menjadikan perjuangannya sebagai perjuangan kita juga," pungkasnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)