Gempa Megathrust Sumbar: Potensi M8,98 dan Ancaman Sesar Sianok
Daryono mengingatkan warga Sumbar bersiap menghadapi ancaman gempa megathrust dan tsunami tanpa menunggu kepastian kapan gempa terjadi.
Sahkato.com — Ancaman gempa besar di wilayah Sumatra Barat kembali menjadi perhatian seiring kajian mengenai aktivitas tektonik di kawasan Mentawai-Siberut. Namun, masyarakat diingatkan agar tidak terjebak pada pertanyaan kapan gempa akan terjadi, melainkan memastikan kesiapan menghadapi bencana tersebut.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan paradigma masyarakat dalam menghadapi gempa perlu diubah. Menurut dia, gempa tidak dapat dicegah dan hingga kini waktu kejadiannya belum bisa diprediksi secara tepat.
“Kita harus mengubah paradigma dari ‘kapan gempa akan terjadi?’ menjadi ‘apakah kita sudah siap ketika gempa terjadi?’ Gempa tidak dapat dicegah dan waktunya belum dapat diprediksi. Tapi, korban dapat dikurangi,” kata Daryono, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, kesiapsiagaan dapat dimulai dari hal sederhana. Masyarakat perlu mengetahui apakah tempat tinggal mereka berada di kawasan rawan gempa maupun tsunami, mengenali bangunan yang aman, mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul, serta menyiapkan rencana komunikasi keluarga.
“Ketidakpastian waktu kejadian bukan alasan untuk takut, justru alasan untuk selalu siap,” tegasnya.
Energi Tektonik Terus Terakumulasi
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah zona megathrust Mentawai-Siberut dan Mentawai-Pagai di lepas pantai Sumatra Barat. Dalam kajian yang disampaikan Daryono, kedua kawasan tersebut merupakan bagian dari wilayah tektonik aktif di barat Sumatra.
Di kawasan tersebut, Lempeng India-Australia terus bergerak dan menunjam terhadap Lempeng Sunda. Pergerakannya memang hanya beberapa sentimeter setiap tahun sehingga tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, dalam rentang puluhan hingga ratusan tahun, pergerakan tersebut dapat menyebabkan batuan mengalami tekanan dan menyimpan energi dalam jumlah besar.
“Inilah salah satu proses yang melahirkan gempa besar di sepanjang pantai barat Sumatra,” ujar Daryono.
Daryono merujuk penelitian Ongky Anggara dan sejumlah peneliti lainnya pada 2026 mengenai deformasi lempeng di Sumatra. Penelitian tersebut menggunakan pengamatan GNSS periode 2018-2021 untuk melihat perubahan bentuk kerak bumi di kawasan Sumatra bagian tengah, termasuk Mentawai dan sekitarnya.
Data tersebut diperoleh dari 35 stasiun GNSS, termasuk 11 stasiun di Kepulauan Mentawai dan 14 stasiun di sekitar Zona Sesar Sumatra.
Menurut Daryono, data GNSS dapat dianalogikan sebagai alat ukur yang sangat teliti untuk mengetahui pergerakan permukaan bumi. Dari perubahan posisi titik-titik tersebut, peneliti dapat mengidentifikasi bagian kerak bumi yang mengalami tekanan, bergerak, maupun relatif terkunci.
Ia menegaskan, penelitian tersebut bukan prediksi mengenai kapan gempa akan terjadi.
“Jadi penelitian ini bukan meramalkan kapan gempa akan terjadi, melainkan membaca bagaimana energi tektonik sedang terakumulasi di bawah kawasan Sumatra Barat dan Mentawai,” katanya.
Segmen Mentawai Diperkirakan Memiliki Potensi Gempa Besar
Hasil penelitian yang dikutip Daryono menunjukkan pola deformasi Sumatra bagian tengah didominasi pemendekan atau kompresi kerak bumi akibat interaksi lempeng di zona subduksi.
Bagian utara Pulau Siberut disebut menunjukkan deformasi yang relatif kuat dibandingkan wilayah lainnya. Penelitian tersebut juga menemukan nilai maximum shear strain yang tinggi di utara Siberut dan kawasan Padang.
“Dalam bahasa sederhana, kerak bumi di kawasan tersebut tidak sedang ‘diam’. Pengukuran geodesi menunjukkan proses tektonik masih terus bekerja dan tegangan terus berkembang,” ujar Daryono.
Perhatian juga tertuju pada bidang pertemuan lempeng di sekitar Mentawai yang masih mengalami coupling atau kondisi ketika bidang kontak antarlempeng relatif terkunci.
Penelitian yang dirujuk Daryono membagi sumber megathrust Mentawai menjadi dua bagian, yakni Segmen A di utara Siberut dan Segmen B di selatan Siberut.
Dengan menggunakan skenario periode ulang 200 tahun, model penelitian tersebut menghitung potensi teoritis sekitar Mw 8,98 untuk Segmen A dan Mw 8,79 untuk Segmen B.
Namun, Daryono menekankan bahwa angka tersebut tidak boleh dipahami sebagai prediksi bahwa gempa dengan magnitudo tersebut akan segera terjadi.
“Mw 8,98 dan Mw 8,79 bukan prediksi bahwa gempa sebesar itu akan segera terjadi. Angka tersebut merupakan estimasi potensi berdasarkan model akumulasi slip, coupling, dan asumsi periode ulang yang digunakan dalam penelitian,” katanya.
Ia juga menyebut penelitian tersebut memiliki ketidakpastian dalam pemodelan. Pembagian sumber menjadi dua segmen, misalnya, dapat menyebabkan estimasi slip deficit menjadi terlalu besar.
Sumatra Barat Menghadapi Dua Sumber Ancaman Gempa
Ancaman gempa di Sumatra Barat tidak hanya berasal dari zona megathrust di laut. Di daratan, terdapat Zona Sesar Sumatra yang juga perlu diperhatikan, termasuk Segmen Sianok.
Daryono menyebut penelitian yang dikutipnya memperoleh estimasi laju geser Segmen Sianok sekitar 16,5 ± 4 milimeter per tahun, dengan kedalaman penguncian sekitar 15 ± 3 kilometer.
Karakter gempa yang dihasilkan sesar aktif tersebut berbeda dengan gempa megathrust. Gempa darat umumnya memiliki magnitudo lebih kecil dibandingkan gempa megathrust, tetapi sumbernya yang dangkal dan berdekatan dengan kawasan berpenduduk tetap dapat menimbulkan kerusakan besar.
“Dengan demikian, Sumatra Barat menghadapi dua persoalan sekaligus, sumber gempa besar di zona subduksi sebelah barat dan sumber gempa dangkal dari sesar aktif di daratan,” ucapnya.
Sejarah kegempaan juga menunjukkan kawasan barat Sumatra pernah mengalami sejumlah gempa besar. Daryono menyebut gempa Bengkulu 2007, gempa Mentawai 2010, serta gempa besar pada 1833 yang diperkirakan mencapai sekitar Mw 8,8 dan memicu tsunami di kawasan pesisir.
Kajian sebelumnya yang dikutip dalam penelitian tersebut juga menunjukkan adanya akumulasi regangan pada sebagian zona subduksi yang disebut telah mencapai atau melampaui tingkat yang dilepaskan dalam gempa besar 1797 dan 1833.
Warga Diminta Mengenali Peringatan Alam
Daryono menegaskan bahwa ilmu pengetahuan saat ini belum mampu menentukan tanggal, jam, dan lokasi secara tepat kapan gempa besar akan terjadi.
Karena itu, informasi mengenai potensi magnitudo seharusnya dipahami sebagai gambaran mengenai kapasitas sumber bahaya, bukan sebagai kalender kapan gempa akan terjadi.
“Ilmu pengetahuan belum mampu menentukan tanggal, jam, dan lokasi tepat terjadinya gempa besar. Karena itu pertanyaan yang lebih bermanfaat bukan lagi ‘kapan gempa Mentawai akan terjadi?’, melainkan ‘jika gempa terjadi hari ini, apakah kita sudah siap?’” ujarnya.
Bagi masyarakat di Kepulauan Mentawai dan pesisir Sumatra Barat, kesiapsiagaan menjadi semakin penting karena gempa besar di laut dapat memicu tsunami.
Masyarakat diminta mengetahui apakah rumah, sekolah, tempat kerja, hotel, maupun fasilitas umum berada di kawasan rawan tsunami. Jalur evakuasi, lokasi evakuasi, titik kumpul, serta akses menuju tempat yang lebih tinggi juga perlu dikenali sebelum bencana terjadi.
Dalam skenario tsunami lokal, waktu menjadi faktor penting. Daryono mengingatkan bahwa masyarakat di kawasan pantai yang merasakan guncangan sangat kuat atau berlangsung lama perlu memahami guncangan tersebut sebagai peringatan alam untuk segera melakukan evakuasi sesuai prosedur setempat.
Dengan demikian, kesiapsiagaan tidak harus menunggu kepastian kapan gempa akan datang. Justru karena waktu gempa belum dapat diprediksi, masyarakat perlu memastikan langkah evakuasi dan perlindungan diri sudah dipahami sebelum guncangan terjadi.
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0