BMKG Bantah Dentuman Bandung Berasal dari Erupsi Anak Krakatau, Sebut Jarak Terlalu Jauh

Kepala BMKG Kelas I Bandung Suaidi Ahadi memastikan dentuman yang terdengar di Bandung Raya pada 5 September tidak berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau. Menurutnya jarak terlalu jauh dan tidak ada rekaman gempa di sesar aktif saat fenomena terjadi. Dentuman diduga akibat aktivitas geofisika seperti gempa runtuhan, swarm, atau skyquake terkait gas metana di danau purba.

Oct 3, 2026 - 04:02
Oct 3, 2026 - 04:02
 0
BMKG Bantah Dentuman Bandung Berasal dari Erupsi Anak Krakatau, Sebut Jarak Terlalu Jauh
BMKG Bantah Dentuman Bandung Berasal dari Erupsi Anak Krakatau, Sebut Jarak Terlalu Jauh

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menegaskan bahwa suara dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya pada Jumat (5/9) hingga Sabtu dini hari tidak ada kaitannya dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Menurutnya, meski kedua peristiwa terjadi bersamaan, tidak ada indikasi hubungan di antara keduanya.

"Tapi kalau di Kota Bandung, menurut saya terlalu jauh untuk mendengar aktivitas dari letusan Gunung Krakatau yang kejadiannya seperti kemarin," ujar Suaidi di Bandung, Sabtu (5/9), mengutip Antara.

Suaidi menjelaskan bahwa fenomena dentuman bisa dipicu oleh berbagai aktivitas geofisika. Beberapa di antaranya adalah swarm earthquake atau rangkaian gempa kecil, gempa akibat aktivitas di kawasan karst, serta gempa yang disebabkan oleh runtuhan. Ia menyebut fenomena serupa pernah terdengar di wilayah Cianjur, termasuk saat gempa Cianjur pada 2025.

"Gempa-gempa akibat runtuhan, gempa-gempa akibat swarm, dan gempa-gempa kecil itu bisa menghasilkan dentuman," kata Suaidi.

Berdasarkan pemantauan BMKG, tidak ada rekaman gempa di wilayah Bandung Raya saat masyarakat melaporkan mendengar dentuman tersebut. "Tapi fenomena hari ini, kami mencatat tidak ada rekaman gempa, baik di sesar aktif, Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, maupun beberapa sesar lainnya pada saat itu di wilayah Bandung Raya," ucapnya.

Suaidi menilai fenomena ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut dari para ahli di bidang sains kebumian, geofisika, dan meteorologi. Ia juga menyinggung kemungkinan kaitan dengan skyquake, yakni fenomena atmosfer yang menurut literatur bisa berhubungan dengan aktivitas gas metana di danau purba.

"Ini memang belum terjawab, tapi ada literatur yang menjelaskan bahwa aktivitas skyquake mungkin berkaitan dengan adanya aktivitas gas metana yang ada di danau purba," tutup Suaidi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0