El Nino 2026 Diprediksi Jadi yang Terkuat dalam 150 Tahun Terakhir

Para ilmuwan memprediksi El Nino tahun ini akan menjadi yang terkuat dalam 150 tahun, dengan puncak suhu permukaan laut di Pasifik berpotensi melonjak hingga 3,6 derajat Celsius di atas rata-rata. Hal ini dapat memecahkan rekor Super El Nino 2015-2016 dan berdampak pada kenaikan suhu global hingga 1,7 derajat Celsius pada 2027. BRIN juga menyatakan intensitas El Nino saat ini sudah melampaui tahun 2023.

Aug 10, 2026 - 06:00
Aug 10, 2026 - 06:00
 0
El Nino 2026 Diprediksi Jadi yang Terkuat dalam 150 Tahun Terakhir
El Nino 2026 Diprediksi Jadi yang Terkuat dalam 150 Tahun Terakhir

Para pakar iklim memperingatkan bahwa fenomena El Nino yang sedang berlangsung tahun ini berpotensi menjadi yang terkuat dalam 150 tahun terakhir. Berbagai model prakiraan menunjukkan bahwa peristiwa ini dapat memecahkan seluruh rekor yang pernah tercatat sebelumnya, termasuk Super El Nino yang terjadi pada periode 2015-2016.

Zeke Hausfather, ilmuwan iklim dari Berkeley Earth, mengungkapkan bahwa analisis terhadap 14 model prakiraan musiman menunjukkan puncak suhu permukaan laut di Samudra Pasifik berisiko melonjak hingga sekitar 3,6 derajat Celsius di atas rata-rata. Angka tersebut 0,8 derajat Celsius lebih tinggi dibanding rekor sebelumnya pada 2015-2016.

"Sebagai gambaran, selisih suhu antara El Nino terkuat dan terkuat kelima dalam 150 tahun terakhir hanya sekitar 0,5 derajat Celsius," kata Hausfather. Ia menambahkan bahwa model-model saat ini memprediksikan sesuatu yang berada di luar jangkauan pengamatan sebelumnya.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) telah resmi menyatakan dimulainya fase El Nino pada Juni lalu. Seiring menguatnya fenomena ini, lautan akan melepaskan lebih banyak panas ke atmosfer, dengan puncak suhu permukaan laut diperkirakan terjadi antara November hingga Februari. Dampak kenaikan suhu global yang paling signifikan biasanya baru terasa pada tahun berikutnya.

Hausfather juga menyebut bahwa kombinasi El Nino kali ini dengan krisis iklim dapat mendorong kenaikan rata-rata suhu global hingga 1,7 derajat Celsius di atas era pra-industri pada tahun 2027. Lonjakan ini akan melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius yang disepakati dalam Paris Agreement. Terakhir kali batas tersebut terlewati adalah pada tahun 2024, yang juga mencatat rekor sebagai tahun terpanas.

Dari dalam negeri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga memprediksi El Nino tahun ini akan lebih kuat dibanding fenomena 2023. Profesor riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengatakan bahwa intensitas El Nino saat ini sudah mencapai 1,74 derajat Celsius, melampaui intensitas maksimum El Nino 2023 yang hanya 1,6 derajat Celsius.

"Itu sudah melampaui ambang batas El Nino 2023, dan ini belum berhenti di sini, masih merangkak naik dan diprediksi Agustus akan mencapai ambang batas di atas 2 derajat Celsius. Jika mencapai 2 atau lebih, maka disebut super," jelas Erma. Ia menambahkan bahwa kategori El Nino super pernah terjadi pada 1997 dan 2015, namun tahun ini diprediksi lebih kuat dari keduanya.

Erma menegaskan bahwa dampak El Nino 2026 akan lebih parah dibandingkan 2023 karena intensitasnya yang sudah lebih tinggi. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi dampak yang lebih besar, terutama terkait kekeringan dan gangguan cuaca lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0