Dituding Pilih Cuan demi Anak, Meta Hadapi Gugatan Rp25 Kuadriliun

Meta dituding mengutamakan keuntungan dibanding keselamatan anak-anak dan remaja dalam gugatan yang dipimpin California. Jaksa Agung menyebut fitur seperti auto-play dan infinite feed sengaja dirancang untuk membuat kecanduan. Meta menghadapi tuntutan penghapusan fitur dan denda hingga Rp25 kuadriliun.

Sep 04, 2026 - 12:06
Updated: 2 months ago
0
Dituding Pilih Cuan demi Anak, Meta Hadapi Gugatan Rp25 Kuadriliun
Dituding Pilih Cuan demi Anak, Meta Hadapi Gugatan Rp25 Kuadriliun

Jakarta, CNN Indonesia -- Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, kembali berhadapan dengan hukum di Amerika Serikat. Dalam persidangan perdana yang digelar pada Selasa (18/8), raksasa teknologi itu dituding lebih mengutamakan keuntungan finansial dibanding keselamatan pengguna, terutama anak-anak dan remaja. Gugatan yang diajukan oleh sejumlah negara bagian ini menuding Meta sengaja merancang fitur-fitur yang berpotensi merusak kesehatan mental generasi muda.

Jaksa Agung California, Rob Bonta, dalam argumen pembukanya menyampaikan bahwa anak-anak dan remaja saat ini menjadi korban dari fitur-fitur yang dirancang untuk memicu kecanduan. Ia menyoroti mekanisme seperti video yang berputar otomatis dan umpan tanpa batas yang membuat pengguna terus bergulir tanpa henti. Bonta juga menuduh Meta telah membohongi orang tua dengan klaim bahwa layanannya aman, padahal bukti internal perusahaan menunjukkan hal sebaliknya.

"Para orang tua tidak bisa menjalankan perannya dalam melindungi anak jika mereka terus menerus dibohongi," tegas Bonta, seperti dikutip dari Fox 40. Pernyataan ini menggarisbawahi kekhawatiran bahwa orang tua tidak memiliki informasi yang cukup untuk melindungi anak-anak mereka dari bahaya platform media sosial.

Seorang mantan karyawan Meta yang tidak disebutkan namanya turut memberikan kesaksian dalam persidangan. Ia mengaku telah bertemu dengan CEO Meta, Mark Zuckerberg, lebih dari 100 kali. Menurut kesaksiannya, perusahaan sebenarnya mengetahui dampak buruk dari fitur-fitur tersebut terhadap anak-anak dan remaja, namun tetap memilih untuk menerapkannya. Bonta menambahkan bahwa filosofi perusahaan yang dikenal dengan 'move fast and break things' semakin mempertegas kesengajaan tindakan tersebut.

"Tuan Zuckerberg sendiri secara sadar lebih memilih keuntungan ketimbang keselamatan anak-anak," jelas Bonta. Sementara itu, pengacara Meta, Paul Schmidt, tidak membantah bahwa sebagian pengguna remaja mengalami masalah mental selama menggunakan media sosial. Namun, ia menegaskan bahwa riset belum menunjukkan hubungan yang jelas antara penggunaan media sosial dengan masalah kesehatan mental remaja. Schmidt juga menyampaikan bahwa Zuckerberg memiliki keinginan untuk meningkatkan kualitas layanan, bukan membuatnya berbahaya.

Para penggugat, yang terdiri dari 29 negara bagian dan dipelopori oleh California, Colorado, Kentucky, dan New Jersey, menuntut perombakan besar-besaran pada aplikasi Facebook dan Instagram. Tuntutan tersebut mencakup penghapusan fitur like dan infinite scroll yang mendorong pengguna untuk terus melihat konten baru. Selain itu, mereka juga meminta penerapan batas waktu penggunaan untuk remaja serta penegakan aturan yang lebih ketat agar anak di bawah usia 13 tahun tidak dapat mengakses platform.

Gugatan ini juga menuntut Meta membayar denda sebesar US$1,4 triliun atau sekitar Rp25 kuadriliun. Kasus ini berawal dari gugatan tahun 2023 yang diajukan oleh puluhan negara bagian di AS. Mereka menuduh Meta sengaja merancang fitur-fitur yang memicu kecanduan serta melanggar undang-undang perlindungan konsumen. Selain itu, Meta juga digugat atas dugaan pelanggaran Children's Online Privacy Protection Act (COPPA) karena mengumpulkan data pribadi pengguna di bawah usia 13 tahun tanpa izin orang tua.

Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers akan memutuskan bentuk pertanggungjawaban Meta. Jika terbukti bersalah, hakim dapat menjatuhkan sanksi denda perdata dan memerintahkan perubahan pada sistem Facebook dan Instagram. Persidangan ini menjadi sorotan karena menyangkut masa depan perlindungan anak di dunia digital.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User