Trump Kembali Perang Tarif dengan Kanada, Kesepakatan Dagang yang Nyaris Terwujud Justru Buyar
Hubungan Amerika Serikat dan Kanada kembali memanas setelah kesepakatan dagang yang nyaris tercapai gagal total. Kanada memberlakukan tarif hingga 50 persen atas ratusan produk AS, yang dibalas Trump dengan tarif serupa. Trump menghidupkan Pasal 338 Undang-Undang Smoot-Hawley, sementara Perdana Menteri Mark Carney menuding Trump berupaya menghancurkan industri otomotif Kanada.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Kanada kembali mencuat setelah negosiasi dagang yang disebut-sebut hampir mencapai kesepakatan justru berujung pada perang tarif. Pemicunya adalah kebijakan Kanada yang memberlakukan tarif hingga 50 persen terhadap ratusan produk AS pada Selasa (25/8). Sehari berselang, Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan keras dengan menyebut Kanada sebagai salah satu negara terburuk di dunia untuk diajak berurusan. Pernyataan itu dibalas Perdana Menteri Kanada Mark Carney yang menilai Trump tengah berupaya menghancurkan industri otomotif negaranya.
Padahal, beberapa hari sebelum ketegangan memuncak, kedua negara dilaporkan berada di ambang kesepakatan. Kanada semula berharap memperoleh pengurangan tarif tinggi AS terhadap baja, aluminium, dan mobil. Pemerintah Kanada bahkan mengklaim sempat ada kesepakatan awal untuk menurunkan tarif baja dan aluminium dari 50 persen menjadi 25 persen. Namun, kesepakatan itu kemudian mengalami kemunduran dan akhirnya gagal terwujud.
Kegagalan negosiasi tidak lepas dari sikap Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick yang disebut mendapat lobi dari produsen baja dan aluminium AS agar tarif tetap dipertahankan. Lutnick juga menolak pengurangan tarif untuk mobil dan truk. Penolakan tersebut membuat sejumlah bagian lain dari rancangan kesepakatan ikut runtuh. Kanada sebelumnya menawarkan pembukaan kembali pembahasan proyek pipa minyak Keystone yang dibatalkan Presiden Joe Biden pada 2021, tetapi tawaran itu ditarik kembali setelah kesepakatan tarif logam dan otomotif tak kunjung tercapai. AS juga meminta Kanada mencabut kebijakan sejumlah provinsi yang menarik minuman keras AS dari rak toko, namun permintaan itu tidak dipenuhi karena perundingan tak menunjukkan kemajuan.
Salah satu faktor penting di balik runtuhnya negosiasi adalah keputusan Trump menghidupkan ketentuan dalam Undang-Undang Tarif 1930 atau Smoot-Hawley. Para ekonom menilai undang-undang tersebut memperpanjang masa Depresi Besar karena memicu perang dagang global, pembalasan dari negara lain, serta penurunan produk domestik. Pada periode 1929-1932, perdagangan AS tercatat turun hingga dua pertiga. Ketentuan yang digunakan Trump adalah Pasal 338, yang memberi kewenangan kepada presiden AS untuk mengenakan tarif sepihak sebesar 50 persen terhadap produk negara asing yang dianggap mendiskriminasi produk AS. Pasal itu hampir tidak pernah digunakan sejak diberlakukan, namun Trump menghidupkannya kembali pada Juli dengan mengancam akan mengenakan tarif 50 persen terhadap Kanada.
Setelah negosiasi gagal, ancaman itu ditindaklanjuti. AS mengenakan tarif hingga 50 persen terhadap ekspor Kanada senilai sekitar US$20 miliar. Berdasarkan Pasal 338 Undang-Undang Smoot-Hawley, tarif tersebut menyasar berbagai produk seperti suku cadang otomotif, produk kehutanan, furnitur, tekstil, wiski, dan peralatan hoki. Nilai barang yang terkena tarif itu mencapai sekitar 4 persen dari total ekspor Kanada ke AS. Kanada sendiri merupakan pemasok utama barang ke AS dengan nilai ekspor sekitar US$451 miliar pada 2025, menempati peringkat kedua setelah Meksiko.
Kanada tidak tinggal diam. Carney membalas kebijakan Trump dengan menyiapkan daftar barang AS senilai sekitar US$20 miliar yang akan dikenakan tarif hingga 50 persen. Ottawa memilih produk dari negara bagian penting AS, seperti keju dari Wisconsin, makanan laut dari Maine, serta mesin cuci dan pengering dari Kentucky. Langkah itu dinilai dapat memberikan tekanan politik kepada pemerintahan Trump menjelang pemilihan paruh waktu AS.
Ketegangan kedua negara sebenarnya bukan hal baru. Sejak kembali menjabat sebagai presiden, Trump berulang kali mengkritik Kanada, menuduhnya menipu AS, dan bahkan menyebut kemungkinan menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51. Pernyataan itu memicu kemarahan warga Kanada dan menyatukan opini publik negeri itu untuk menentang Trump. Bagi Carney, salah satu persoalan utama dalam perundingan adalah tuntutan baru negosiator AS agar kebijakan perdagangan Kanada secara permanen diselaraskan dengan kepentingan AS, yang dinilai dapat mengurangi kedaulatan Kanada.
Perang dagang ini berpotensi berdampak langsung pada konsumen dan perusahaan AS. Tarif merupakan pungutan yang dibayar importir saat barang masuk ke suatu negara, dan sebagian biaya biasanya diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga. Dampaknya berpotensi lebih kuat di negara bagian yang memiliki hubungan perdagangan erat dengan Kanada, seperti Maine, New York, Pennsylvania, Ohio, Wisconsin, dan Michigan yang industri otomotifnya terhubung erat dengan Ontario. Petani dan produsen AS juga bisa kehilangan sebagian pasar di Kanada, terutama di negara bagian basis Partai Republik dan pendukung Trump, sehingga isu tarif berpotensi menjadi persoalan politik menjelang pemilihan paruh waktu. Meski demikian, arah kebijakan Trump masih sulit diprediksi karena ia dapat mengubah tarif sebelum pemilu maupun sebelum masa jabatannya berakhir pada 2028.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0