Udara Pontianak Terburuk se-Indonesia, Skor IQAir Tembus 695 dan Masuk Kategori Berbahaya
Kualitas udara Kota Pontianak, Kalimantan Barat, masuk kategori berbahaya dengan skor IQAir 695, terburuk se-Indonesia pada Selasa (1/9). Konsentrasi PM2.5 mencapai 423,5 µg/m³ atau 84,7 kali standar WHO. Kondisi ini dipicu kebakaran hutan dan lahan di sekitar wilayah tersebut yang terus meluas.
Kualitas udara di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, menempati posisi terburuk se-Indonesia pada Selasa (1/9). Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir per pukul 08.55 WIB, Pontianak meraih skor 695 dan masuk kategori berbahaya atau Hazardous.
Tingginya angka tersebut tidak lepas dari konsentrasi PM2.5 di Pontianak yang mencapai 423,5 µg/m³. Angka itu setara 84,7 kali dari standar udara yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). PM2.5 merupakan partikel udara berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron yang umumnya berasal dari kendaraan bermotor dan pabrik. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat terserap ke dalam aliran darah saat bernapas sehingga menimbulkan ancaman kesehatan paling besar.
Menyikapi kondisi tersebut, IQAir merekomendasikan warga sekitar untuk menghindari aktivitas di luar ruangan, menutup jendela agar udara dari luar tidak masuk, serta memakai masker jika harus beraktivitas di luar ruangan.
Selain Pontianak, sejumlah daerah lain di Indonesia juga tercatat memiliki kualitas udara buruk. Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berada di posisi kedua dengan indeks AQI 389. Berikutnya ada Ubud, Bali, dengan AQI 196, disusul Palembang dengan AQI 178, dan Surabaya, Jawa Timur, dengan AQI 176.
Memburuknya kualitas udara di Pontianak berkaitan erat dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di hampir sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut hotspot atau titik panas sebagai indikasi karhutla di Kalimantan Barat masih terus bertambah hingga Senin (31/8).
Data BNPB mencatat hotspot di Kalbar naik 3.553 titik menjadi 7.377 titik, sementara titik api atau fire spot bertambah 16 titik menjadi 72 titik. Jarak pandang di wilayah tersebut terpantau kurang dari 1 km.
Di sisi lain, kondisi di Kalimantan Tengah justru menunjukkan penurunan. Hotspot di Kalteng tercatat turun 147 titik menjadi 5.244 titik, sedangkan titik api naik 16 titik menjadi 72 titik. Jarak pandang di Kalteng juga terpantau kurang dari 1 km.
Sementara itu, Kalimantan Selatan turut terpantau mengalami penurunan jumlah titik panas. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat akibat paparan polusi udara yang terus meningkat.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0