Setrika Bara di Pasar Raya Padang Masih Bertahan, Pesanan Kini Anjlok Tinggal 20 Potong Sehari
Rul Tanjung masih menjalankan jasa setrika bara di Padang Theater, Pasar Raya Padang, meski pesanan turun drastis sejak awal 2026. Kini ia hanya mengerjakan 20-30 potong pakaian per hari, jauh dari sebelumnya yang bisa ratusan potong. Tarif bervariasi Rp4.000 hingga Rp20.000 per potong, dengan waktu pengerjaan 5-10 menit tergantung jenis kain.
Di tengah persaingan jasa penyetrikaan modern, Rul Tanjung tetap setia menjalankan usaha setrika bara api di kawasan Padang Theater, Pasar Raya Padang. Meski kini pesanan yang diterimanya tidak lagi seramai beberapa tahun silam, ia memilih bertahan dengan keahlian yang diwariskan keluarganya tersebut.
Saat ditemui pada Selasa (1/9/2026), Rul mengungkapkan bahwa dalam sehari ia hanya mengerjakan sekitar 20 hingga 30 potong pakaian. Jumlah itu menurun jauh dibandingkan masa sebelumnya yang bisa mencapai ratusan potong per hari. Sepinya pesanan ini, menurut Rul, dipicu oleh berkurangnya pekerjaan dari tukang jahit yang selama ini menjadi salah satu pelanggan utamanya. Kondisi tersebut mulai terasa sejak awal 2026 dan masih berlangsung hingga sekarang.
Kendati pesanan menurun, Rul tetap menggunakan setrika bara untuk merapikan pakaian. Ia menilai jasa ini masih diminati karena hasilnya lebih rapi, terutama jika dikerjakan oleh orang yang memahami karakter dan jenis kain. "Kalau orang itu punya kain, dia tahu yang bagus," ujarnya.
Penggunaan setrika bara memang menuntut ketelitian dalam mengatur panas. Rul menjelaskan bahwa pekerja harus benar-benar memahami jenis kain sebelum menyetrikanya. Kesalahan dalam menentukan suhu panas dapat menyebabkan kain rusak dan menambah kerugian bagi pemiliknya.
Untuk satu potong pakaian, waktu pengerjaan berkisar lima hingga 10 menit, tergantung jenis kain dan tingkat kesulitannya. Tarif yang dikenakan pun bervariasi, mulai dari Rp4.000, Rp5.000, Rp10.000 hingga Rp20.000 per potong.
Dalam menjalankan pekerjaannya, Rul menggunakan arang yang dibeli per karung. Dalam kondisi normal, ia menghabiskan sekitar dua kilogram arang per hari. Namun jika pekerjaan sedang banyak, kebutuhan arang bisa mencapai tiga kilogram sehari.
Keahlian menggunakan setrika bara diperoleh Rul secara turun-temurun dari keluarganya. Ia mengaku cara mengatur panas dan menggunakan setrika tersebut telah diwariskan dari keluarga yang kemudian dipelajarinya.
Rul juga menyebut bahwa kondisi pekerja setrika bara di kawasan tersebut kini jauh berbeda dibandingkan dulu. Sebelumnya, terdapat lebih dari 10 orang yang bekerja dan aktivitas dapat berlangsung sejak pagi hingga sekitar pukul 19.00 WIB. Kini sebagian dari mereka sudah tidak lagi menjalankan pekerjaan tersebut.
Meski jumlah pesanan berkurang, Rul masih mempertahankan jasa setrika bara dan tetap menjalankan pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0