Molinas Diluncurkan, Bisakah Jadi Mesin Industrialisasi atau Cuma Pasar Motor Listrik Baru?
Presiden Prabowo resmi meluncurkan Ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas) di Cikarang. Program ini ditargetkan menjadi katalis industrialisasi dengan kapasitas produksi 100 ribu unit per tahun dan TKDN 40 persen. Pengamat menilai prospeknya besar jika tidak sekadar perakitan, melainkan menguasai teknologi komponen inti dan memanfaatkan pasar domestik yang luas.
Jakarta - Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan Ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas) di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA), Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis (13/8). Program ini tidak hanya sekadar memperkenalkan satu merek kendaraan, tetapi dirancang untuk membangun ekosistem nasional yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa ekosistem Molinas akan mencakup pengembangan industri dan manufaktur, komponen dan baterai, infrastruktur charging dan battery swapping, pembiayaan, distribusi, layanan purnajual, hingga penguatan penyerapan pasar. PT Len Industri akan bertindak sebagai lead integrator untuk mengorkestrasi kolaborasi para pemangku kepentingan.
Kapasitas produksi Molinas disebut mencapai 100 ribu unit per tahun dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40 persen, yang ditargetkan meningkat hingga 60 persen. Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai prospek Molinas sangat besar, asalkan nilai strategisnya tidak hanya diukur dari angka penjualan.
"Motor listrik nasional tentunya bisa menjadi katalis industrialisasi kalau ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem yang menghubungkan manufaktur, baterai, komponen, charging dan battery swapping, pembiayaan, sampai layanan purnajual," ujar Yannes kepada CNNIndonesia.com. Ia menekankan bahwa roadmap hilirisasi tidak boleh berhenti pada nikel atau perakitan akhir saja. Nilai tambah terbesar justru muncul ketika Indonesia menguasai teknologi komponen inti seperti baterai, motor penggerak, controller, Battery Management System (BMS), power electronics, hingga integrasi sistem.
"Kalau kandungan lokal terus diperdalam dan harga akhirnya kompetitif tanpa subsidi permanen, motor listrik nasional bisa menjadi pintu masuk transformasi industri," tambah Yannes. Senada, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai prospek Molinas untuk membangkitkan industri dan ekosistem sangat besar, terutama karena kekuatan pasar domestik. Dari total sekitar 140 juta unit sepeda motor di Indonesia dengan pembelian baru 6-7 juta unit per tahun, penetrasi motor listrik saat ini baru menyentuh angka 1 persen.
"Indonesia memiliki sesuatu yang sangat penting untuk membangun industri, yaitu pasar domestik yang cukup besar untuk menciptakan skala produksi," ujar Josua. Dampaknya juga bisa menyebar ke industri sel dan paket baterai, motor penggerak, komponen elektronik, rangka, ban, suku cadang, bengkel, pengisian dan penukaran baterai, pembiayaan, hingga daur ulang. Dari sisi ketahanan energi, Molinas menjadi krusial mengingat pengeluaran devisa negara untuk impor BBM mencapai US$28 miliar-US$30 miliar per tahun.
"Motor listrik dapat menjadi kebijakan industri sekaligus kebijakan energi, asalkan produksi dalam negeri benar-benar mendalam dan bukan sekadar perakitan," tegas Josua. Dengan demikian, Molinas memiliki peluang besar untuk menjadi motor penggerak industrialisasi, tetapi tantangan utamanya adalah memastikan ekosistem yang dibangun benar-benar mendalam dan tidak terjebak sebagai industri perakitan semata.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0