Harga Minyak Dunia Turun ke US$89,03 per Barel Setelah Ketegangan Mereda

Harga minyak dunia turun pada Jumat (31/7) dengan Brent ke US$89,03 dan WTI ke US$83,59 per barel. Penurunan dipicu meredanya ketegangan setelah Arab Saudi membentuk koalisi maritim di Laut Merah dan dialog Iran-Oman mengenai Selat Hormuz berlanjut. Namun, analis mengingatkan risiko masih ada.

Aug 11, 2026 - 01:17
Aug 11, 2026 - 01:17
 0
Harga Minyak Dunia Turun ke US$89,03 per Barel Setelah Ketegangan Mereda
Harga Minyak Dunia Turun ke US$89,03 per Barel Setelah Ketegangan Mereda

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada Jumat (31/7) setelah sebelumnya bergerak fluktuatif. Minyak mentah berjangka Brent terkoreksi 1,88 persen atau US$1,71 menjadi US$89,03 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 1,03 persen ke posisi US$83,59 per barel. Sebelumnya, Brent sempat menyentuh level tertinggi harian di US$93,31 per barel, dan WTI mencapai US$85,94 per barel.

Penurunan harga ini terjadi seiring meredanya ketegangan pasar yang sebelumnya dipicu oleh saling serang antara militer Amerika Serikat dan Iran. Faktor utama yang menekan harga adalah respons pasar terhadap usulan pembentukan koalisi pertahanan maritim multinasional yang diprakarsai Arab Saudi. Koalisi ini bertujuan memperkuat keamanan di Selat Bab El-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa sedikitnya 14 negara, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Sudan, dan Djibouti, telah menandatangani deklarasi bersama untuk mendukung koalisi tersebut. Langkah ini diambil setelah militan Houthi di Yaman melancarkan blokade laut terhadap Arab Saudi pekan lalu, yang mengancam rute Laut Merah sebagai jalur alternatif vital bagi ekspor minyak Saudi saat Selat Hormuz dilanda krisis.

Partner di Again Capital, John Kilduff, mengatakan bahwa pasar memiliki persepsi kuat bahwa pasokan minyak dalam jumlah besar siap mengalir kembali begitu konflik teratasi. Sentimen ini menjadi penahan utama yang membatasi lonjakan harga lebih lanjut.

Selain faktor Laut Merah, spekulasi meredanya ketegangan juga didorong oleh berlanjutnya dialog antara Iran dan Oman mengenai tata kelola Selat Hormuz. Meskipun pejabat senior Iran sempat menolak usulan Oman terkait pengelolaan bersama secara regional, fakta bahwa saluran komunikasi tetap terbuka memberikan sentimen positif bagi pasar.

Ekonom Senior Bidang Iklim dan Komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, menilai komunikasi diplomatik tersebut dapat membuka jalan menuju pemulihan rute dagang. Ia menuturkan bahwa fakta Oman masih aktif berdiskusi dengan Iran mengindikasikan adanya titik terang menuju pembukaan kembali Selat Hormuz.

Meski ada angin segar diplomasi, para pelaku pasar diimbau untuk tidak terburu-buru berpuas diri. Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengingatkan bahwa harga minyak masih akan dibayangi oleh premi risiko tinggi selama jalur pelayaran belum sepenuhnya aman. Menurutnya, harapan terhadap jalur diplomasi disambut baik, namun kenyataan bahwa aksi militer dan serangan masih terjadi membuat premi risiko minyak sulit menguap sepenuhnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0