Gempa Cianjur M4,3 Dipicu Sesar Cisokan, Bagian dari Sistem Sesar Cimandiri Sepanjang 100 Km
Gempa magnitudo 4,3 yang mengguncang Cianjur pada Selasa (1/9) dipicu aktivitas ujung barat Segmen Sesar Cisokan, bagian dari sistem Sesar Cimandiri. Sesar aktif sepanjang sekitar 100 km dari Pelabuhan Ratu hingga Padalarang ini telah memicu sejumlah gempa besar sejak 1900, dan BRIN tengah meneliti karakteristiknya secara lebih komprehensif.
Gempa berkekuatan magnitudo 4,3 yang mengguncang wilayah Cianjur, Jawa Barat, dan sekitarnya pada Selasa (1/9) dipicu oleh aktivitas ujung barat Segmen Sesar Cisokan. Hal itu disampaikan anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, yang menyebut Sesar Cisokan sebelumnya dikenal sebagai segmen Rajamandala dan merupakan bagian dari Sesar Cimandiri.
"Gempa magnitudo M 4,3 yang mengguncang wilayah Kab Cianjur, Jawa Barat dan sekitarnya pada Selasa, 1 September 2026 pukul 17:53:11 WIB dipicu Ujung barat Segmen Sesar Cisokan," kata Daryono.
Sesar Cimandiri sendiri merupakan sistem sesar aktif yang berpotensi memengaruhi kegempaan di wilayah tersebut. Hal itu dijelaskan Perekayasa Ahli Utama dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Putri Natari Ratna, yang menyebut sesar ini membentang sekitar 100 kilometer mulai dari Pelabuhan Ratu hingga Padalarang.
Menurut Putri, penelitian tentang Sesar Cimandiri sebenarnya sudah banyak dilakukan, namun hasilnya belum cukup konklusif. Karena itu, BRIN melakukan kajian yang lebih komprehensif untuk memahami karakteristik dan pergerakan sesar tersebut, sebagaimana tertuang dalam penelitian bertajuk "Geological and geomorphological insights into the Cimandiri Fault system: Fieldwork and preliminary findings in West Java, Indonesia".
Berdasarkan penelitian Teknik Geologi Universitas Padjadjaran pada 2017, Sesar Cimandiri merupakan sesar tua yang terbentuk selama orogenesa tahap II pada Akhir Eosen Tengah. Sesar ini terus aktif hingga membentuk tinggian purba atau paleo high di antara Lembah Ciletuh dan Lembah Cimandiri.
Penulis jurnal tersebut, Iyan Haryanto, menjelaskan Sesar Cimandiri terdiri atas dua sesar regional. Pertama, sesar naik yang dicirikan oleh deformasi lipatan batuan yang umumnya tegak. Kedua, sesar normal yang ditandai terbentuknya gawir sesar dengan kemiringan di atas 50 derajat, bahkan di beberapa lokasi mendekati vertikal.
Dalam jurnal Universitas Gadjah Mada yang ditulis Muhammad Adis S W pada 2018, Sesar Cimandiri disebut sebagai sesar aktif di Jawa Barat dengan orientasi timur laut barat daya. Sesar ini telah menyebabkan sejumlah gempa bumi, seperti Gempa Pelabuhan Ratu (1900), Gempa Padalarang (1910), Gempa Conggeang (1948), Gempa Tanjungsari (1972), Gempa Cibadak (1973), Gempa Gandasoli (1982), dan Gempa Sukabumi (2001).
Muhammad menjelaskan, segmen-segmen Sesar Cimandiri meliputi segmen Pelabuhan Ratu-Citarik, Citarik-Cadasmalang, Ciceureum-Cirampo, Cirampo-Pangleseran, Pangleseran-Cibeber, sejumlah segmen Cibeber hingga Padalarang, serta segmen Padalarang-Tangkuban Perahu. Segmen-segmen itu dapat diamati sebagai lembah sungai yang berarah hampir timur-barat dan membelok ke arah timur laut mulai dari Cibeber ke arah timur.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0