Gedung Putih Tuding 40 Negara Jadi 'Jembatan' China Hindari Tarif Trump, Nilainya Capai Rp4.700 Triliun

Gedung Putih menuduh lebih dari 40 negara, termasuk Kanada, Meksiko, Jepang, dan Uni Eropa, membantu China menghindari tarif impor AS melalui praktik transshipment. Nilai perdagangan yang dialihkan diperkirakan mencapai US$60 miliar. Peter Navarro menyebut praktik ini merugikan keuangan AS dan mencuri gaji pekerja Amerika. AS kini menggunakan sistem AI untuk mendeteksi praktik tersebut.

Aug 17, 2026 - 02:36
Aug 17, 2026 - 02:36
 0
Gedung Putih Tuding 40 Negara Jadi 'Jembatan' China Hindari Tarif Trump, Nilainya Capai Rp4.700 Triliun
Gedung Putih Tuding 40 Negara Jadi 'Jembatan' China Hindari Tarif Trump, Nilainya Capai Rp4.700 Triliun

Washington, D.C. – Pemerintah Amerika Serikat melalui Gedung Putih mengeluarkan tuduhan serius terhadap lebih dari 40 negara, termasuk Kanada, Meksiko, Jepang, dan Uni Eropa, yang dinilai membantu China menghindari beban tarif impor yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump. Tuduhan ini disampaikan dalam laporan berjudul 'The Great Transshipment Scam' yang dirilis pada Kamis (13/8).

Praktik yang disebut transshipment ini melibatkan pengalihan rute perdagangan melalui negara-negara yang dikenai tarif lebih rendah, sehingga produk China dapat masuk ke AS tanpa membayar tarif yang seharusnya. Gedung Putih memperkirakan nilai perdagangan yang dialihkan melalui skema ini mencapai US$60 miliar, dengan estimasi lain yang bahkan lebih tinggi, berkisar antara US$40 miliar hingga US$303 miliar.

Kepala White House Office of Trade and Manufacturing Policy, Peter Navarro, menegaskan bahwa China telah menggunakan metode yang sangat canggih untuk melakukan transshipment sejak tarif pertama kali diberlakukan pada 2018. Menurutnya, praktik ini tidak hanya merugikan Departemen Keuangan AS hingga puluhan miliar dolar, tetapi juga mencuri gaji pekerja Amerika.

"Selama bertahun-tahun, penipuan transshipment besar-besaran ini telah memungkinkan China mencuci ekspornya ke lebih dari 40 negara, merampok Departemen Keuangan kami hingga puluhan miliar dolar dan mencuri gaji pekerja Amerika," ujar Navarro dalam pernyataannya.

Navarro juga mengingatkan bahwa praktik serupa tidak hanya dilakukan oleh China. Negara-negara lain yang terkena tarif tinggi AS, seperti India dan Vietnam, juga mulai meniru pola ini untuk menghindari beban tarif. "Ketika kami memberlakukan tarif yang lebih tinggi terhadap negara-negara lain, India, Vietnam dan negara-negara lainnya, mereka juga akan mencoba melakukan transshipment ini," tambahnya.

Untuk mengantisipasi praktik tersebut, US Customs and Border Protection (CBP) telah mulai menggunakan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Detective Border. Sistem ini dirancang untuk membantu menentukan komposisi barang ekspor dan memastikan pelabelan asal barang dilakukan secara tepat, sehingga tarif yang berlaku dapat ditetapkan dengan benar. Navarro memperkirakan langkah ini dapat meningkatkan penerimaan tarif hingga puluhan miliar dolar dan menciptakan ribuan lapangan kerja baru bagi warga AS.

Sementara itu, Perwakilan Dagang AS (USTR), Jamieson Greer, menyatakan bahwa pemerintahan Trump telah memasukkan ketentuan untuk mengurangi praktik transshipment dalam sejumlah kesepakatan perdagangan yang dinegosiasikan dengan negara lain. USTR juga masih menyusun aturan asal barang (rules of origin) untuk menentukan negara tempat suatu produk sebenarnya diproduksi.

Laporan ini dirilis sekitar enam pekan sebelum Presiden China Xi Jinping diperkirakan melakukan kunjungan balasan ke Washington. Hubungan dagang AS-China masih tegang meskipun kedua negara telah menyepakati gencatan perdagangan selama satu tahun. Menteri Keuangan AS Scott Bessent baru-baru ini juga menyampaikan kekhawatiran kepada Wakil Perdana Menteri China He Lifeng terkait komitmen Beijing untuk tidak memperlambat ekspor logam tanah jarang ke AS.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0