Brine 70 Persen Tak Dibuang, Sarulla Ubah Limbah Panas Bumi Jadi Listrik Ratusan Megawatt
PLTP Sarulla di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, tidak membuang air panas sisa pengeboran atau brine ke perut bumi. Lewat teknologi biner, cairan yang didominasi 70-80 persen brine itu diolah menjadi tambahan daya hingga ratusan megawatt untuk sistem kelistrikan Sumatera.
Industri panas bumi di Indonesia biasanya hanya memburu uap panas bertekanan tinggi untuk memutar turbin pembangkit. Namun Sarulla Operations Limited (SOL) memilih pendekatan berbeda di pedalaman Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Alih-alih membuang air panas sisa pengeboran atau brine ke dalam perut bumi, kompleks pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Sarulla mengolah cairan tersebut menjadi sumber energi besar.
Proyek berkapasitas total 330 megawatt ini membentang di dua wilayah kerja utama, yakni Silangkitang (SIL) dan Namora I Langit (NIL). Dari kedua lapangan itulah suplai fluida panas bumi ditarik untuk diolah oleh unit-unit pembangkit yang terintegrasi.
General Manager Sarulla Operation Ltd. (SOL) Eddiyanto menjelaskan bahwa karakteristik sumur di wilayah kerja Sarulla didominasi fluida cair atau wet steam. Porsi brine jauh lebih besar dibandingkan uap murninya. "Karakteristik sumur kita didominasi oleh brine hingga 70 persen sampai 80 persen, sedangkan uapnya hanya sekitar 20 persen sampai 30 persen," ujar Eddiyanto dalam paparannya kepada peserta Field Trip Sarulla Geothermal Power Plant, Sabtu (22/8).
Kondisi itu membuat Sarulla mengandalkan sistem biner berskala masif. Berbeda dengan PLTP konvensional yang hanya memanfaatkan uap kering, sistem biner di Sarulla merangkul seluruh potensi yang ada di dalam bumi. Teknologi ini tidak langsung memutar turbin dengan air panas dari bumi, melainkan memakai cairan kerja khusus berupa pentana yang memiliki titik didih rendah dalam siklus tertutup (closed-loop). Uap tekanan rendah dan brine bersuhu tinggi berperan sebagai penukar panas untuk memanaskan dan mengekspansikan gas pentana tersebut.
SIL Site Manager Sarulla Operation Ltd. (SOL) Zulham Anwar memaparkan keunikan sistem biner terletak pada kapasitas masifnya dalam menangani volume cairan. Secara teknis, volume brine yang besar justru mendominasi efisiensi total pembangkit. "Untuk unit biner brine, vaporizer kita mampu menerima laju alir hingga 1.500 ton per jam. Di mana setiap 100 ton brine sudah bisa menghasilkan satu megawatt," ungkap Zulham.
Angka tersebut, menurut Zulham, menunjukkan efisiensi yang sangat masif jika dikalkulasikan dengan total volume fluida yang ditarik dari dalam sumur setiap harinya. Kombinasi pemanfaatan uap sisa dan brine bersuhu sekitar 185 derajat Celsius membuat Sarulla mampu membangkitkan tambahan daya hingga mendongkrak total kapasitas mencapai ratusan megawatt yang menyuplai sistem kelistrikan Sumatera.
Meski demikian, pengoperasian teknologi biner tidak lepas dari tantangan. Zulham menyebut faktor lingkungan eksternal seperti fluktuasi suhu harian (ambient temperature) memengaruhi kinerja optimal sistem pendingin kondensor (air-cooled condenser) yang digunakan. "Di siang hari yang terik, ketika suhu lingkungan meningkat, efisiensi sistem biner kita mengalami tantangan karena proses pendinginan di kondensor tidak seoptimal saat pagi atau malam hari yang udaranya lebih dingin," jelas Zulham.
Terobosan Sarulla membuka babak baru dalam peta jalan energi bersih nasional. Di tengah tuntutan transisi energi yang makin mendesak, langkah ini membuktikan bahwa optimalisasi limbah dari perut bumi bisa menjadi kunci mendulang kapasitas listrik yang jauh lebih besar dan efisien.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0