BMKG Ungkap Tanah di Flores Bergeser Usai Gempa M7,7, Jalan hingga Jembatan Terdampak

BMKG menemukan fenomena pergeseran tanah di sejumlah wilayah Flores, NTT, pasca gempa M7,7 pada 15 Agustus. Pergerakan patahan mengubah bentuk dan elevasi permukaan tanah, memicu deformasi jalan, retakan, hingga pergeseran bangunan. Survei lapangan mencatat dampak di Jembatan Marapokot, Nagekeo, dan Kecamatan Elar, Manggarai Timur.

Oct 2, 2026 - 08:02
Oct 2, 2026 - 08:02
 0
BMKG Ungkap Tanah di Flores Bergeser Usai Gempa M7,7, Jalan hingga Jembatan Terdampak
BMKG Ungkap Tanah di Flores Bergeser Usai Gempa M7,7, Jalan hingga Jembatan Terdampak

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap adanya fenomena pergeseran tanah di sejumlah wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, setelah gempa berkekuatan M7,7 mengguncang kawasan itu pada Sabtu, 15 Agustus. Temuan ini menjadi perhatian karena berkaitan erat dengan respons kerak bumi dan material permukaan terhadap guncangan gempa.

Menurut BMKG, gempa bumi tidak hanya mengguncang permukaan tanah, tetapi juga dapat memicu pergerakan pada patahan. Akibatnya, bentuk dan ketinggian permukaan tanah bisa berubah, baik secara vertikal maupun horizontal di wilayah tertentu.

"Gempa bumi tidak hanya mengguncang permukaan. Pergerakan pada patahan dapat menyebabkan perubahan bentuk dan elevasi permukaan tanah, termasuk pergeseran tanah pada wilayah tertentu," tulis BMKG melalui akun Instagram resminya, Selasa, 1 September.

Dalam unggahannya, BMKG menyertakan ilustrasi yang memperlihatkan kondisi tanah sebelum dan sesudah gempa. Sebelum gempa, permukaan jalan tampak rata dengan lapisan tanah yang stabil dan seragam. Setelah gempa, lapisan tanah bergerak dan berubah bentuk, sebagian naik atau turun secara vertikal, sementara bagian lain bergeser horizontal.

Pergerakan tanah yang tidak seragam inilah yang menyebabkan deformasi perkerasan jalan hingga munculnya retakan memanjang pada aspal. "Pergerakan vertikal yang tidak seragam dapat menyebabkan deformasi permukaan jalan," imbuh BMKG.

Fenomena tersebut dapat dikenali di lapangan melalui sejumlah tanda, seperti permukaan jalan yang bergelombang atau bergeser, bangunan yang miring atau berpindah, retakan pada tanah dan jalan, serta perbedaan ketinggian antarbagian permukaan tanah. Dalam kondisi tertentu, air atau material pasir bahkan dapat naik ke permukaan.

BMKG menegaskan dampak guncangan gempa bisa berbeda di setiap lokasi. Perbedaan itu dipengaruhi oleh jenis dan karakteristik tanah, kandungan air dalam tanah, kondisi topografi dan lereng, beban bangunan di atas tanah, serta intensitas guncangan yang dirasakan.

BMKG juga memaparkan hasil survei lapangan di beberapa wilayah Flores. Salah satunya di Jembatan Marapokot, Kabupaten Nagekeo, NTT. Analisis di lokasi ini menemukan tanah lunak dengan daya dukung rendah yang rentan mengalami pergerakan vertikal atau settlement. Pergerakan vertikal yang tidak seragam turut memicu deformasi dan retakan pada permukaan aspal.

Survei lain dilakukan di Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Flores. Dari analisis tersebut, BMKG menemukan pergeseran tanah berupa rekahan pada permukaan tanah. "Kondisi ini menunjukkan adanya kegagalan tanah akibat guncangan gempa yang kuat, sehingga melebihi kemampuan tanah dalam menahan deformasi geser," ujar BMKG.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0