Tim Forensik Sebut Kafein Jadi Pemicu, Jantung Iskemik Diduga Kuat Penyebab Kematian Sutrimo

Tim forensik gabungan menyimpulkan penyakit jantung iskemik diduga kuat menjadi penyebab kematian Sutrimo (42), dengan kandungan kafein di tubuh dinilai berperan sebagai faktor pencetus. Pemeriksaan menyeluruh mencakup ekshumasi, toksikologi, dan histopatologi tidak menemukan tanda kekerasan maupun racun berbahaya.

Oct 3, 2026 - 04:03
Oct 3, 2026 - 04:03
 0
Tim Forensik Sebut Kafein Jadi Pemicu, Jantung Iskemik Diduga Kuat Penyebab Kematian Sutrimo
Tim Forensik Sebut Kafein Jadi Pemicu, Jantung Iskemik Diduga Kuat Penyebab Kematian Sutrimo

Tim forensik gabungan mengungkapkan bahwa penyakit jantung iskemik diduga kuat menjadi penyebab utama kematian Sutrimo (42). Kesimpulan itu disampaikan setelah rangkaian pemeriksaan menyeluruh, termasuk pemeriksaan luar dan dalam, analisis toksikologi, serta histopatologi pasca ekshumasi pada 12 Agustus 2026.

Ketua Tim Ekshumasi Prof. Dr. dr. Ahmad Yudianto menjelaskan bahwa pihaknya tidak dapat menyingkirkan penyakit jantung iskemik sebagai penyebab kematian. Menurut dia, kafein yang ditemukan di dalam tubuh Sutrimo berpotensi menjadi faktor pencetus yang memperberat kondisi tersebut.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan secara keseluruhan, baik pemeriksaan luar, dalam, serta pemeriksaan penunjang, kami menyimpulkan bahwa penyakit jantung iskemik tidak dapat disingkirkan sebagai penyebab kematian. Kafein yang ditemukan dalam tubuh dinilai dapat berperan sebagai faktor pencetus yang memperberat kondisi tersebut," ujar Ahmad dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Penyakit jantung iskemik sendiri merupakan kondisi ketika aliran darah ke jantung berkurang akibat penyumbatan sebagian atau seluruh arteri koroner. Ahmad juga memastikan pemeriksaan fisik tidak menemukan luka akibat kekerasan benda tajam maupun tumpul, serta tidak ada tanda-tanda patah tulang pada jenazah.

Selain itu, uji toksikologi terhadap organ tubuh dan tanah di sekitar area pemakaman tidak mendeteksi kandungan bahan berbahaya seperti pestisida, alkohol, arsenik, maupun sianida. Meski demikian, tim medis menemukan sejumlah perubahan patologis pada sistem pembuluh darah dan jantung almarhum.

Temuan tersebut meliputi ketebalan lemak abdomen, adanya Frank's sign pada cuping telinga, penebalan dinding arteri koroner, serta penyempitan lumen pembuluh darah hingga mencapai 75 persen. Data itu memperkuat dugaan bahwa gangguan jantung berperan besar dalam kematian Sutrimo.

Ketua Perhimpunan Dokter Forensik Medikolegal Indonesia (PDFMI) Brigjen Pol. Dr. dr. Sumy Hastry menegaskan seluruh hasil analisis disampaikan murni berdasarkan fakta medis dan bukti ilmiah teruji, bukan asumsi atau spekulasi. Sementara itu, Kasubbid Penmas Polda Metro Jaya AKBP Onkoseno Grandiarso Sukahar menyatakan kepolisian berkomitmen menangani perkara ini secara profesional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sutrimo merupakan kepala rumah tangga di kediaman mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah. Ia ditemukan meninggal dunia secara mendadak pada Juli 2026. Sebelumnya, kuasa hukum keluarga almarhum mendatangi Polda Metro Jaya untuk menyampaikan permohonan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) guna mempertanyakan kejelasan hasil ekshumasi jenazah korban.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0