Puasa Gelar Dunia Berlanjut, Indonesia Dinilai Tenggelam di Tengah Persaingan Bulu Tangkis yang Makin Merata

Indonesia kembali gagal meraih gelar di Kejuaraan Dunia BWF 2026, memperpanjang puasa juara sejak 2019. Meski persaingan bulu tangkis dunia makin merata, China dan Korea tetap konsisten juara, sementara Indonesia tumbang sebelum babak final karena minimnya pemain andalan. PBSI dituntut segera berbenah menjelang Olimpiade dua tahun lagi.

Oct 3, 2026 - 00:02
Oct 3, 2026 - 00:02
 0
Puasa Gelar Dunia Berlanjut, Indonesia Dinilai Tenggelam di Tengah Persaingan Bulu Tangkis yang Makin Merata
Puasa Gelar Dunia Berlanjut, Indonesia Dinilai Tenggelam di Tengah Persaingan Bulu Tangkis yang Makin Merata

Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia kembali harus menelan pil pahit di panggung Kejuaraan Dunia BWF 2026. Tanpa satu pun wakil di partai final, ambisi memutus puasa gelar juara dunia yang sudah berjalan sejak 2019 harus kembali tertunda. Kegagalan ini menambah panjang daftar kekecewaan di tengah narasi bahwa kekuatan bulu tangkis dunia kini semakin merata.

Sejak pasangan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan naik podium tertinggi pada 2019, Indonesia belum lagi melahirkan juara dunia. Rentang ini menjadi yang terpanjang setelah era puasa sepuluh tahun, ketika Icuk Sugiarto juara pada 1983 dan Indonesia baru kembali berjaya lewat Joko Suprianto, Susy Susanti, serta Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky pada 1993.

Yang membuat situasi kian miris, kegagalan kali ini bukan karena kalah di pertempuran akhir seperti semifinal atau final. Indonesia tumbang jauh sebelum babak puncak karena minimnya pasukan andalan yang bisa diharapkan. Sebelum turnamen dimulai, hanya Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Jonatan Christie yang masuk unggulan empat besar. Di bawahnya ada Putri Kusuma Wardani serta Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi di unggulan sepuluh besar.

Ketika satu per satu unggulan tumbang, peluang Indonesia pun melayang. Harapan sempat digantungkan pada kejutan, dan itu nyaris terwujud lewat Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah yang menembus semifinal. Namun langkah mereka terhenti, dan Indonesia sudah dipastikan tanpa wakil di final sebelum laga puncak digelar.

Kontras dengan Indonesia, China seolah tak pernah merasakan dampak dari meratanya persaingan. Di Kejuaraan Dunia 2026, China sempat berada dalam kondisi genting setelah Feng Yanzhe/Huang Dongping dan Liu Shengshu/Tan Ning kalah di dua nomor awal. Namun tren juara mereka tetap berlanjut berkat Liang Weikeng/Wang Chang yang menyelamatkan wajah China.

Korea juga menunjukkan karakter berbeda. Meski hanya mengirim tiga wakil, semuanya berstatus jempolan. An Se Young, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, serta Baek Ha Na/Lee So Hee mampu melaju hingga semifinal. An Se Young dan Baek/Lee bahkan terus melangkah ke final dan merebut gelar juara. Prancis turut menggeliat lewat mental kuat Thom Gicquel/Delphine Delrue dan Alex Lanier yang berhasil menjadi juara dunia.

Secara keseluruhan, hasil Indonesia sebenarnya tidak sepenuhnya buruk. Lima wakil berhasil menembus perempat final. Namun di titik penentuan menuju babak akhir, empat wakil tersingkir, termasuk Fajar/Fikri serta pemain yang diharapkan membuat kejutan seperti Alwi Farhan, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, dan Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari.

Dari daftar juara yang ada, hampir tidak ada kejutan besar di Kejuaraan Dunia 2026. Semua juara masuk unggulan sepuluh besar, dan tiga di antaranya bahkan unggulan lima besar. Artinya, Indonesia kalah dua hingga tiga langkah sebelum juara, bukan di pertempuran akhir. Kekuatan bulu tangkis dunia boleh saja merata, tetapi Indonesia tak boleh larut dan tenggelam di dalamnya.

Pengurus PBSI saat ini memang datang ketika Indonesia tengah krisis pemain andalan. Namun 1,5 tahun sudah berlalu, dan kondisi itu tidak bisa terus dijadikan alasan. Pemain dan pelatih dituntut meningkatkan daya juang, menuangkan hasil latihan maksimal di lapangan, serta memperbaiki mental bertanding yang sering goyah. Alwi, Putri KW, Rachel/Febi, Ana/Trias, hingga Amri/Nita harus terus meningkatkan kualitas agar tak lagi hanya diandalkan sebagai pembuat kejutan, melainkan benar-benar menjadi pemain andalan. Olimpiade tinggal dua tahun lagi, dan perubahan besar tidak bisa menunggu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0