Populasi Orangutan Sumatera Anjlok 19,5 Persen dalam 12 Tahun, Tersisa 11.694 Ekor

Survei terbaru Kementerian Kehutanan mengungkap populasi orangutan Sumatera turun 19,5 persen dalam 12 tahun, kini tersisa 11.694 individu. Penurunan ini dipicu hilangnya habitat, konflik dengan manusia, dan fragmentasi hutan. Pemerintah akan menyusun PHVA 2026 untuk pembaruan strategi konservasi.

Aug 17, 2026 - 02:36
Aug 17, 2026 - 02:36
 0
Populasi Orangutan Sumatera Anjlok 19,5 Persen dalam 12 Tahun, Tersisa 11.694 Ekor
Populasi Orangutan Sumatera Anjlok 19,5 Persen dalam 12 Tahun, Tersisa 11.694 Ekor

Kementerian Kehutanan mengumumkan hasil survei populasi terbaru yang menunjukkan penurunan signifikan jumlah orangutan Sumatera. Dalam periode 2011-2023, populasi satwa endemik ini merosot hingga 19,5 persen, menjadi sekitar 11.694 individu. Angka tersebut berkurang sekitar 2.700 ekor dibandingkan survei 12 tahun sebelumnya.

Hasil survei ini disampaikan dalam Seminar Nasional Refleksi Satu Dekade Konservasi Orangutan di Medan, Sumatera Utara, pada 18 Mei lalu. Selain orangutan Sumatera (Pongo abelii), survei juga mencatat populasi orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang kini hanya tersisa sekitar 716 individu. Kedua spesies ini berstatus kritis (critically endangered) menurut IUCN.

Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, dalam sambutannya menegaskan bahwa seminar ini menjadi momentum penting untuk memperkuat tata kelola konservasi orangutan, baik di dalam kawasan konservasi maupun areal preservasi yang sedang didorong pemerintah. Ia mengingatkan bahwa orangutan bukan hanya kekayaan sumber daya alam, tetapi juga indikator kesehatan ekosistem hutan.

Penurunan populasi ini disebabkan oleh berbagai tekanan yang masih berlangsung, terutama hilangnya dan terfragmentasinya habitat, konflik antara manusia dan orangutan, serta ancaman lain yang mengurangi peluang reproduksi alami. Dede Aulia Rahman, peneliti IPB University, menyebut kondisi ini harus diperlakukan sebagai keadaan darurat konservasi.

Dede menjelaskan bahwa sekitar 76 persen variasi perubahan populasi antar-metapopulasi dipengaruhi oleh hilangnya hutan. Selama periode 2011-2023, sekitar 94.399 hektare hutan di wilayah sebaran orangutan hilang akibat ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, pertambangan, dan perambahan ilegal. Namun, ia menekankan bahwa hilangnya habitat bukan satu-satunya penyebab.

"Tidak tepat jika kita mempertentangkan kehilangan habitat dengan pembunuhan atau konflik seolah-olah keduanya merupakan ancaman yang terpisah. Keduanya saling memperkuat," ujar Dede. Kehilangan habitat dan fragmentasi mendorong orangutan memasuki kebun dan permukiman, yang kemudian meningkatkan konflik, penangkapan, dan pembunuhan.

Reproduksi orangutan yang sangat lambat memperparah situasi. Betina umumnya hanya melahirkan satu anak setiap tujuh hingga sembilan tahun, sehingga berkurangnya satu individu dewasa saja dapat berdampak besar pada kelangsungan populasi. Pemerintah berencana menyusun Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2026 sebagai dasar ilmiah pembaruan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) orangutan.

Dede mengingatkan bahwa jika kehilangan habitat, fragmentasi hutan, dan kematian akibat aktivitas manusia terus berlangsung, risiko kepunahan lokal akan semakin meningkat, terutama pada metapopulasi kecil dan orangutan Tapanuli. Upaya konservasi harus dilakukan secara terpadu, meliputi penghentian kehilangan habitat penting, pemulihan koridor ekologis, penekanan kematian akibat aktivitas manusia, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan lembaga konservasi.

"Dengan langkah tersebut, peluang mempertahankan populasi orangutan Sumatra masih terbuka," pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0