PBB Setujui Peta Dunia Baru, Peta Mercator Era Kolonial Akhirnya Ditinggalkan

Majelis Umum PBB menyetujui resolusi 'The Correct Map' yang diusulkan Uni Afrika, mendorong dunia beralih dari Peta Mercator abad ke-16 ke proyeksi Equal Earth yang dinilai lebih akurat menggambarkan ukuran benua Afrika. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak, sementara Prancis menyatakan dukungan dan berencana beralih ke Equal Earth.

Oct 3, 2026 - 00:01
Oct 3, 2026 - 00:01
 0
PBB Setujui Peta Dunia Baru, Peta Mercator Era Kolonial Akhirnya Ditinggalkan
PBB Setujui Peta Dunia Baru, Peta Mercator Era Kolonial Akhirnya Ditinggalkan

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) resmi mengesahkan resolusi yang mengubah cara dunia melihat peta bumi. Dalam pemungutan suara pada Jumat (4/9), resolusi bertajuk 'The Correct Map' yang diusulkan negara-negara Afrika dalam naungan Uni Afrika (African Union/AU) berhasil meraih dukungan mayoritas. Langkah ini secara resmi mengakui peta baru bumi di bidang datar, dengan Afrika digambarkan sesuai perbandingan ukuran yang riil.

Resolusi tersebut mengevaluasi penggambaran ukuran benua Afrika dalam Peta Mercator yang telah digunakan lebih dari 450 tahun terakhir. Lewat keputusan ini, pemerintah, sekolah, dan perusahaan teknologi di seluruh dunia didorong untuk berhenti memakai peta yang membuat Afrika tampak jauh lebih kecil dari ukuran sebenarnya. Meski demikian, resolusi itu tidak melarang penggunaan proyeksi Mercator maupun memaksakan penggantinya.

Peta Mercator sendiri dikembangkan kartografer Gerardus Mercator pada pertengahan abad ke-16, tepatnya tahun 1569, untuk mempermudah navigasi maritim. Proyeksi silindris ini menampilkan garis lintang dan bujur sebagai garis lurus yang saling berpotongan tegak lurus, sehingga sudut arah kompas di bumi sama persis dengan yang ada di peta. Namun, proyeksi ini mendistorsi ukuran relatif daratan dengan memperbesar wilayah yang lebih dekat ke kutub.

Akibat distorsi tersebut, Greenland tampak hampir seukuran Afrika, padahal luas Afrika sebenarnya sekitar 14 kali lebih besar. Menurut penjelasan laman Universitas Harvard, daratan di dekat khatulistiwa memang sesuai skala, tetapi garis lintang yang lebih tinggi tampak jauh lebih besar. Sejumlah kritikus menilai Peta Mercator tetap banyak dipakai karena secara visual melebih-lebihkan dan memusatkan negara-negara Barat, sehingga dianggap melanggengkan gagasan superioritas Eropa.

"Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil," ujar Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, dalam wawancara dengan Reuters menjelang pemungutan suara di markas PBB, New York, Amerika Serikat. Togo yang memimpin resolusi itu meminta dunia menggunakan peta yang lebih akurat dalam perbandingan ukuran benua. Resolusi tersebut mendorong pemerintahan dunia, sekolah, organisasi internasional, dan perusahaan teknologi untuk beralih ke proyeksi Equal Earth.

Proyeksi Equal Earth diluncurkan sekelompok kartografer pada 2018 dan membuat Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, serta Oseania tampak jauh lebih besar dibandingkan proyeksi Mercator. "Equal Earth mempertahankan luas permukaan relatif benua dan, sebisa mungkin, menunjukkan bentuknya seperti yang terlihat pada bola dunia," kata kartografer Bojan Savric kepada AFP pada 2025 lalu. Dussey menargetkan penggunaan peta Mercator di ruang kelas sekolah diganti setidaknya mulai akhir tahun ini.

Dussey mengaitkan kampanye penggantian Peta Mercator sebagai upaya Afrika menghapus warisan era kolonial yang lebih luas. Ia menegaskan langkah ini bukan serangan terhadap Eropa atau peradaban lain. "Penggunaan peta Mercator yang meluas adalah konsekuensi dari kolonisasi. Dunia sedang berubah. Afrika juga sedang berubah," ujarnya.

Dalam voting tersebut, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak resolusi itu. Perwakilan AS menyebutnya sebagai "proyek ideologis radikal" yang mengganggu pekerjaan PBB dan menjadi alasan lembaga itu kehilangan kredibilitas. Sementara enam negara abstain, yakni Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia, dan Ukraina.

Di sisi lain, Prancis menyatakan dukungan beberapa jam sebelum pemungutan suara. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mengumumkan bahwa Paris berencana meninggalkan Mercator dan beralih ke Equal Earth. "Mengubah peta jelas tidak mengubah dunia. Tetapi mengoreksi representasi yang terdistorsi sudah merupakan tindakan kebenaran," kata Barrot dikutip dari AFP. Pergeseran ini berarti Prancis, seperti Amerika Serikat dan Rusia, akan tampak lebih kecil dibandingkan negara-negara khatulistiwa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0