Filosofi Nginang di Kantin Kejujuran Kemenag Banyumas, H. Ibnu Ingatkan Jangan Kehilangan Akar

Kepala Kemenag Banyumas H. Ibnu Asaddudin memaknai tradisi nginang sebagai warisan leluhur yang sarat nilai kesabaran, kesehatan, dan penghormatan kepada sesama. Dalam perbincangan di Kantin Kejujuran, ia mengingatkan masyarakat modern agar tidak kehilangan akar budaya dan tetap menjaga hati serta kejujuran.

Sep 30, 2026 - 12:02
Sep 30, 2026 - 12:02
 0
Filosofi Nginang di Kantin Kejujuran Kemenag Banyumas, H. Ibnu Ingatkan Jangan Kehilangan Akar
Filosofi Nginang di Kantin Kejujuran Kemenag Banyumas, H. Ibnu Ingatkan Jangan Kehilangan Akar

Tradisi mengunyah sirih atau nginang ternyata bukan sekadar kebiasaan lama. Di Kantin Kejujuran Kemenag Banyumas, Senin pagi (29/06/2026), Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, H. Ibnu Asaddudin, mengungkap makna mendalam di balik selembar daun sirih yang kerap dianggap remeh.

Menurut H. Ibnu, nginang merupakan warisan leluhur Jawa yang menyimpan nilai kehidupan, kesabaran, kesehatan, hingga penghormatan kepada sesama. Ia menilai tradisi ini mengajarkan manusia untuk lebih tenang, tidak tergesa-gesa, menjaga lisan, dan menghargai orang lain.

"Nginang mengajarkan manusia agar tenang, tidak tergesa-gesa, menjaga lisan, dan menghormati orang lain. Orang Jawa dulu mengatakan alon-alon waton kelakon," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa perpaduan sirih dan pinang dalam tradisi nginang melambangkan keharmonisan hidup. Beragam unsur yang menyatu menjadi satu rasa mengajarkan pentingnya keseimbangan pikiran, perasaan, tindakan, dan hubungan sosial.

Selain sebagai simbol kesucian hati dan persaudaraan, nginang juga diyakini para sesepuh memiliki manfaat bagi kesehatan. H. Ibnu menyebut orang tua dahulu percaya bahwa mereka yang rutin mengunyah daun sirih tubuhnya lebih segar dan harum.

"Para orang tua dahulu meyakini bahwa orang yang rutin mengunyah daun sirih, tubuhnya lebih segar dan harum. Sirih ibarat minyak wangi alami yang diproses tubuh. Dari sisi kesehatan pun daun sirih dikenal memiliki manfaat bagi daya tahan tubuh, tentu semuanya atas izin Gusti Allah SWT," ungkapnya.

Di tengah arus modernisasi, H. Ibnu mengingatkan agar masyarakat tidak malu mempelajari kearifan leluhur yang selaras dengan nilai agama dan kesehatan. Ia menekankan pentingnya menjaga akar budaya agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

"Jangan sampai kita kehilangan akar karena terlalu mengejar ranting. Yang membuat sehat bukan semata daunnya, tetapi rasa syukur, pola hidup yang baik, dan izin Gusti Allah SWT," terangnya.

Filosofi nginang pun kembali menggema sebagai pengingat untuk menjaga hati, merawat kejujuran, dan menghormati sesama. Sebagaimana petuah Jawa yang disampaikan, nginang iku dudu mung kanggo cangkem, nanging kanggo ngresiki ati lan pikiran. Nginang bukan hanya untuk mulut, melainkan untuk membersihkan hati dan pikiran, karena keharuman sejati lahir dari lisan yang santun, hati yang jujur, dan jiwa yang berserah kepada Allah SWT.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0