Emisi Karbon Karhutla Indonesia Melonjak 429 Persen, El Nino Jadi Pemicu Utama

Emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia melonjak 429 persen dibanding rata-rata musiman. Copernicus mencatat emisi karhutla dalam sepekan terakhir mencapai 17,1 juta ton, tertinggi kedua setelah Rusia. El Nino yang kuat memperparah kekeringan dan mempercepat penyebaran api, terutama di lahan gambut Kalimantan. Pemerintah mengerahkan operasi modifikasi cuaca untuk memadamkan titik api.

Oct 1, 2026 - 04:02
Oct 1, 2026 - 04:02
 0
Emisi Karbon Karhutla Indonesia Melonjak 429 Persen, El Nino Jadi Pemicu Utama
Emisi Karbon Karhutla Indonesia Melonjak 429 Persen, El Nino Jadi Pemicu Utama

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Indonesia membawa dampak serius terhadap lingkungan. Data pemantauan iklim Uni Eropa Copernicus menunjukkan emisi karbon dari karhutla di Indonesia dalam tujuh hari terakhir mencapai 17,1 juta ton, atau melonjak 429 persen dibanding rata-rata musiman. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai penyumbang emisi karhutla tertinggi kedua di dunia setelah Rusia.

Intensitas emisi kebakaran di Indonesia tercatat mencapai 1.302 kg per kilometer persegi, jauh melampaui Rusia yang hanya 185 kg per kilometer persegi. Indeks El Nino yang sangat tinggi disebut menjadi pemicu utama meningkatnya suhu panas dan kekeringan, sehingga api lebih mudah menyebar dan membesar.

Pemerintah terus berupaya memadamkan titik-titik api yang muncul. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menggelar operasi modifikasi cuaca, terutama di sejumlah titik panas utama di Kalimantan yang memiliki lahan gambut luas dan rawan terbakar.

Kebakaran parah yang berlangsung selama beberapa pekan membuat asap terus mengepul hingga menyeberang ke negara tetangga, Malaysia. Kondisi ini menambah kekhawatiran akan dampak lintas batas dari karhutla yang terjadi.

Kekeringan akibat El Nino tidak hanya memicu karhutla di Indonesia. Fenomena serupa juga menyebabkan lonjakan kebakaran hutan di seluruh Belahan Bumi Utara, meningkatkan polusi udara dan emisi gas rumah kaca di Amerika Utara, Eurasia, bahkan Arktik. Di Amerika Serikat, rumah-rumah hancur di Nevada dan Washington, sementara Kanada terpaksa mengevakuasi warganya setelah kebakaran hutan melonjak pada Juli.

Di Eropa, Belgia dan Spanyol mengalami kebakaran terburuk. Ratusan rumah di Prancis juga hancur akibat kobaran api. Data Uni Eropa mencatat lebih dari 680 ribu hektar lahan terbakar di Eropa sepanjang tahun ini.

Sementara itu, karhutla di Indonesia telah menghancurkan hampir 95 ribu hektar lahan pada Juli, dengan suhu rata-rata mencapai titik tertinggi dalam 35 tahun terakhir. Jumlah titik api pada Agustus ini tercatat lebih dari 9 ribu, jauh lebih tinggi dibandingkan 5.077 titik pada Agustus 2015, menurut layanan pemantauan kebakaran Kementerian Kehutanan, Sipongi.

Meski demikian, kerusakan akibat karhutla tahun ini belum separah 11 tahun lalu. Rekor bulanan tertinggi sepanjang masa tercatat pada Oktober 2015 dengan 17.302 titik api. Pada tahun tersebut, karhutla di Indonesia menghasilkan emisi karbon harian lebih banyak daripada seluruh Uni Eropa. Studi lain bahkan memperkirakan polusi akibat kebakaran hutan saat itu menyebabkan lebih dari 100 ribu kematian di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0