BMKG Peringatkan Puncak Kemarau September 2026, 169 Zona Musim Terdampak
BMKG memprediksi puncak musim kemarau pada September 2026 mencakup 25,41 persen daratan Indonesia atau 169 Zona Musim (ZOM). Sejumlah wilayah seperti Bangka Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, Jawa, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua akan terdampak. Kemarau tahun ini lebih kering dan panjang akibat El Nino yang bertahan hingga awal 2027.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah di Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau pada September 2026. Puncak kemarau tersebut diperkirakan mencakup sekitar 25,41 persen daratan Indonesia atau setara dengan 169 Zona Musim (ZOM).
Angka ini merupakan kelanjutan dari puncak musim kemarau pada Agustus yang diproyeksikan mencapai 48,84 persen wilayah daratan Indonesia. Sementara itu, BMKG mencatat sebanyak 77 ZOM atau 11,8 persen masih mengalami musim hujan pada September, dan 113 ZOM atau 33,7 persen lainnya berada di wilayah bertipe satu musim.
Menurut BMKG, beberapa wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada September meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, serta Papua Pegunungan bagian tengah.
BMKG juga memperkirakan sebagian besar wilayah akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 437 ZOM atau sekitar 48,77 persen luas daratan Indonesia diprediksi menghadapi musim kemarau dengan durasi lebih panjang. Curah hujan kategori tinggi diperkirakan baru mulai muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.
Sejumlah daerah telah mengalami hari tanpa hujan dengan kategori sangat pendek hingga panjang. Hari tanpa hujan terpanjang tercatat selama 80 hari di Pos Hujan Katerban, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih lama akibat fenomena El Nino. BMKG memprediksi El Nino bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027, dengan puncak intensitas yang berpotensi melampaui kategori kuat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memperkirakan dampak El Nino akan berkurang ketika memasuki pertengahan Oktober. Menurutnya, saat musim hujan datang, pengaruh El Nino akan berkurang signifikan bahkan relatif tidak ada. "Jadi, nanti pengaruh El Nino akan berkurang tidak signifikan ketika minggu masuk pertengahan dari Oktober. Ketika musim hujan telah datang, maka El Nino relatif tidak memiliki pengaruh," kata Faisal dalam acara Insight with Desi Anwar, Jumat (28/8).
El Nino merupakan anomali iklim yang terjadi saat suhu permukaan laut di ekuator Samudera Pasifik mengalami kenaikan dibandingkan normalnya, sehingga mengakibatkan curah hujan yang lebih rendah di sejumlah wilayah. Faisal menjelaskan, jika fenomena El Nino terjadi bersamaan dengan musim kemarau, kondisi kemarau akan lebih kering disertai durasi yang lebih panjang. BMKG telah memperkirakan Indonesia akan menghadapi kemarau lebih panjang dan lebih kering dari rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0