BMKG Peringatkan Paparan Ganda di Jakarta, Abu Vulkanik Anak Krakatau Bertahan Lama di Udara

BMKG mengungkap hujan yang belum turun di puncak musim kemarau membuat abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau bertahan lebih lama di udara dan membaur dengan polusi perkotaan, terutama di Jakarta. Konsentrasi PM2.5 melonjak pada 5 September, sementara partikel kasar vulkanik memuncak pada 6 September. BMKG mengimbau warga tetap memakai masker karena paparan ganda masih berlangsung.

Oct 4, 2026 - 08:02
Oct 4, 2026 - 08:02
 0
BMKG Peringatkan Paparan Ganda di Jakarta, Abu Vulkanik Anak Krakatau Bertahan Lama di Udara
BMKG Peringatkan Paparan Ganda di Jakarta, Abu Vulkanik Anak Krakatau Bertahan Lama di Udara

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyoroti kondisi udara di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Jakarta, yang masih terdampak sisa abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Penyebabnya, hujan yang belum turun pada puncak musim kemarau membuat partikel vulkanik bertahan lebih lama melayang di atmosfer.

BMKG menyebut material vulkanik itu tidak berdiri sendiri, melainkan membaur dengan polusi perkotaan yang selama ini sudah menjadi persoalan di Jakarta. Kondisi ini menciptakan apa yang disebut BMKG sebagai paparan ganda bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.

"Belum turunnya hujan membuat campuran partikel berbahaya ini tertahan dan melayang lebih lama di udara," tulis BMKG dalam unggahan Instagram, Selasa (8/9).

Dari analisis kualitas udara periode 1-7 September, BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 melonjak pada 5 September. Kenaikan itu terpantau di Lampung dan Jakarta. Meski demikian, BMKG menegaskan konsentrasi PM2.5 di Jakarta memang sudah relatif tinggi sebelum tanggal tersebut akibat polusi yang rutin terjadi di kawasan perkotaan.

Data BMKG per Senin (7/9) pagi menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Pesawaran, Lampung, berada di angka 30,6 mikrogram per meter kubik, sedangkan di Kemayoran, Jakarta, tercatat 25,3 mikrogram per meter kubik. Sejak awal September, atmosfer Jakarta secara umum juga sudah dipenuhi aerosol, terlihat dari tren Aerosol Optical Depth (AOD) harian pada 1-6 September 2026.

AOD memang menggambarkan ketebalan aerosol di atmosfer, tetapi tidak bisa membedakan jenis partikelnya. Karena itu, BMKG menggunakan parameter Ångström Exponent (AE) untuk melacak masuknya debu vulkanik. Pada pukul 06.00-07.30 WIB, nilai AE terpantau di titik terendah dan turun di bawah 1,0, menandakan dominasi partikel kasar dari erupsi. Memasuki siang, nilai AE kembali naik seiring abu mengendap dan udara bercampur emisi partikel halus dari kendaraan serta industri.

Analisis distribusi ukuran partikel juga memperlihatkan perubahan pola pada 6 September. Sehari sebelumnya, aerosol masih didominasi partikel halus berdiameter sekitar 0,11-0,25 mikrometer, yang mengindikasikan akumulasi emisi polusi lokal atau pembentukan aerosol sekunder yang kuat. Pada 6 September, jumlah partikel kecil menurun tajam, sementara partikel kasar meningkat hingga puncak tertinggi mingguan pada rentang diameter 3,86-5,06 mikrometer. Partikel kasar itu disebut berasal dari erupsi.

Memasuki 7 September, volume partikel aerosol halus maupun kasar sama-sama menurun, menunjukkan proses peluruhan aerosol di atmosfer. Meski begitu, BMKG tetap mengingatkan masyarakat, khususnya di Jakarta, untuk tidak lengah dan tetap memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan karena sisa debu vulkanik masih berpotensi bercampur dengan polusi perkotaan.

"Jangan terkecoh dan melepas masker hanya karena mengira langit yang berkabut itu polusi biasa, padahal kenyataannya itu adalah 'paparan ganda' yang masih bercampur dengan material debu vulkanik," tulis BMKG.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0