BMKG Beberkan Penyebab Kekeringan di Indonesia, Ternyata El Nino Bukan Satu-satunya Faktor
BMKG menegaskan kekeringan di Indonesia tidak hanya dipicu El Nino. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut dinamika atmosfer dan suhu perairan Indonesia turut berperan. El Nino saat ini masuk kategori sangat kuat dan diperkirakan mereda pada pertengahan Oktober ketika musim hujan tiba. Dampaknya meliputi sektor pertanian, risiko karhutla, penurunan kualitas udara, hingga gangguan kesehatan seperti ISPA.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa El Nino bukan satu-satunya penyebab kekeringan yang melanda Indonesia. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kondisi cuaca di Tanah Air dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari dinamika atmosfer skala global hingga lokal, termasuk suhu perairan di sekitar Indonesia.
"Satu hal yang perlu saya sampaikan bahwa kekeringan dan durasinya yang panjang di Indonesia semata-mata tidak tergantung dari indeks ENSO ini," ujar Faisal dalam acara Insight with Desi Anwar, Jumat (28/8).
Menurut Faisal, El Nino kuat tidak otomatis membuat wilayah Indonesia mengalami kekeringan dengan tingkat dan durasi tertentu. Saat ini, El Nino di Indonesia berada pada kategori sangat kuat. Meski demikian, ia memperkirakan dampak fenomena tersebut akan mulai berkurang pada pertengahan Oktober mendatang.
Faisal menyebut pengaruh El Nino relatif tidak ada ketika musim hujan datang. "Nanti pengaruh El Nino akan berkurang tidak signifikan ketika minggu masuk pertengahan dari Oktober. Ketika musim hujan telah datang, maka El Nino relatif tidak memiliki pengaruh," jelasnya.
Ketika terjadi pada musim kemarau, El Nino membuat kondisi musim tersebut lebih kering dan berlangsung lebih lama. Kondisi ini berdampak pada sejumlah sektor, terutama pertanian yang paling terdampak pada ketersediaan air.
BMKG mengingatkan adanya risiko gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga peningkatan potensi puso akibat defisit air. Selain itu, El Nino juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penurunan kualitas udara akibat meningkatnya konsentrasi polutan, serta gangguan kesehatan masyarakat seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit akibat paparan suhu panas.
Oleh karena itu, BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan langkah antisipatif sejak dini. Upaya yang dapat dilakukan antara lain penyesuaian pola tanam, pengelolaan irigasi yang lebih efisien, serta pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0