Angklung Masuk Kurikulum Sekolah di Jepang dan Australia, Bagaimana Nasibnya di Indonesia?

Angklung, warisan budaya takbenda UNESCO, kini resmi masuk kurikulum musik di Gifu Special Needs School, Jepang, mulai 2026, dan telah memukau 1.100 pelajar Australia melalui program Indonesia Goes to School. Namun, di Indonesia sendiri, angklung justru semakin jarang dijumpai di ruang kelas sekolah umum, memicu pertanyaan tentang pelestarian budaya di negeri sendiri.

Sep 30, 2026 - 04:02
Sep 30, 2026 - 04:02
 0
Angklung Masuk Kurikulum Sekolah di Jepang dan Australia, Bagaimana Nasibnya di Indonesia?
Angklung Masuk Kurikulum Sekolah di Jepang dan Australia, Bagaimana Nasibnya di Indonesia?

Angklung, alat musik tradisional Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sejak 2010, kini semakin mendunia. Di Australia, lebih dari 1.100 pelajar dari International Grammar School Sydney dan Claremont College Randwick terpesona oleh harmoni bambu ini melalui program Indonesia Goes to School (IGtS) yang digagas KJRI Sydney. Konsul Jenderal RI Sydney, Leonard Sondakh, menegaskan bahwa diplomasi budaya adalah cara efektif untuk mempererat hubungan antarmasyarakat.

Tidak hanya di Negeri Kanguru, angklung juga menembus dunia pendidikan Jepang. Mulai tahun ajaran 2026, Gifu Special Needs School resmi memasukkan angklung ke dalam kurikulum musik mereka. Terobosan ini merupakan hasil kolaborasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Gifu University, dan otoritas pendidikan setempat yang telah dirintis sejak 2022. Yukihiro Saitoh dari Gifu City Board of Education menilai angklung bukan sekadar alat musik, melainkan media pembentuk karakter. Duta Besar RI Nurmala Kartini Sjahrir pun menyebut langkah ini sebagai bukti kuatnya people-to-people contact antara Indonesia dan Jepang.

Namun, di balik prestasi internasional tersebut, muncul ironi di dalam negeri. Angklung semakin jarang terdengar di ruang kelas sekolah umum, terutama di kota-kota besar. Di era gempuran teknologi dan budaya pop global, pelajaran seni musik tradisional sering tergeser oleh target akademis yang padat. Angklung lebih sering muncul di acara seremonial pejabat, hotel bintang lima, atau tempat wisata, bukan di tangan generasi muda.

Padahal, karakteristik angklung yang membutuhkan kerja sama kelompok mencerminkan nilai gotong royong, yang sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila yang digaungkan pemerintah. Antusiasme guru musik di Australia dan Jepang seharusnya menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan Indonesia untuk menghidupkan kembali angklung.

Menghidupkan angklung di sekolah tidak harus membebani kurikulum. Langkah kreatif bisa dimulai dari ekstrakurikuler interaktif dengan aransemen lagu pop modern, kolaborasi dengan komunitas seni dan sanggar budaya untuk lokakarya berkala, serta memberikan ruang tampil di acara sekolah. Dengan begitu, angklung tidak hanya bergaung di luar negeri, tetapi juga tetap hidup di rumah sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0