Abu Vulkanik Bikin Mesin Pesawat Mati Total dalam Hitungan Detik, Ini Penjelasan Pilot

Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu penutupan bandara dan pembatalan ratusan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik. Ikatan Pilot Indonesia mengungkap abu vulkanik bersifat abrasif dan mudah mengkristal sehingga bisa membuat mesin pesawat kehilangan daya total dalam waktu kurang dari satu menit. Pemeriksaan ketat pasca-paparan abu wajib dilakukan sebelum pesawat dinyatakan layak terbang lagi.

Oct 4, 2026 - 08:02
Oct 4, 2026 - 08:02
 0
Abu Vulkanik Bikin Mesin Pesawat Mati Total dalam Hitungan Detik, Ini Penjelasan Pilot
Abu Vulkanik Bikin Mesin Pesawat Mati Total dalam Hitungan Detik, Ini Penjelasan Pilot

Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menyita perhatian dunia penerbangan Tanah Air. Sebaran abu vulkanik memaksa sejumlah bandara ditutup dan ratusan jadwal penerbangan dibatalkan demi keselamatan kru serta penumpang. Keputusan itu bukan tanpa alasan, sebab abu vulkanik dikenal sangat berbahaya bagi mesin pesawat.

Ikatan Pilot Indonesia (IPI) membenarkan bahwa paparan abu vulkanik bisa memicu risiko mati mesin total pada pesawat. Direktur Analisis Kecelakaan dan Pencegahan IPI, Teguh Kristiono, menjelaskan bahwa abu vulkanik memiliki sifat abrasif, mudah mengkristal, dan berukuran sangat halus sehingga mampu menembus berbagai celah pelindung mesin.

Menurut Teguh, awan abu yang masih segar dalam hitungan jam setelah erupsi dapat menyebabkan kehilangan total daya mesin dalam waktu kurang dari satu menit. Mesin yang beroperasi pada thrust tinggi, kata dia, lebih rentan karena suhu internalnya lebih mudah melampaui titik leleh material abu.

Secara teknis, kerusakan mesin terjadi karena partikel abu vulkanik mengandung mineral silika dengan titik leleh di bawah suhu pembakaran turbin. Saat masuk ke ruang bakar, abu meleleh menjadi cairan kaca, lalu mendingin cepat ketika melewati bagian turbin yang lebih dingin dan menempel di sana. Endapan itu mengganggu aliran gas pembakaran bertekanan tinggi sehingga mesin bisa kehilangan dorongan secara drastis atau mengalami flame-out. Partikel abrasif juga mengikis kompresor dan menurunkan efisiensinya secara bertahap.

Bahaya lain datang dari ukuran abu yang sangat halus, bahkan mencapai 1 mikron. Ukuran itu memungkinkan abu menembus hampir semua celah pelindung elektronik, memicu korsleting, menyumbat filter sistem aliran udara dan tekanan kabin, serta mengacaukan sensor tekanan udara. Akibatnya, indikasi kecepatan dan ketinggian pesawat bisa menjadi tidak akurat.

Hingga kini, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) belum menerbitkan definisi kuantitatif soal istilah abu yang terlihat atau dapat dikenali sebagai panduan penghindaran. Teguh menegaskan bahwa keputusan terbang atau tidak merupakan proses manajemen risiko berlapis antara regulator dan operator, bukan sekadar satu indikator tunggal seperti pada cuaca konvensional.

Sejumlah faktor menjadi dasar keputusan go/no-go dalam kondisi risiko paparan abu vulkanik, antara lain keterbatasan radar cuaca dalam mendeteksi awan abu, penetapan area berbahaya, tingkat konsentrasi kontaminasi, serta evaluasi tingkat keparahan bahaya dan probabilitas paparan.

Pesawat yang sudah terpapar abu vulkanik pun wajib menjalani prosedur pemeriksaan sesuai panduan ICAO. Prosedur itu meliputi pelaporan wajib, konfirmasi sebelum penerbangan berikutnya, inspeksi menyeluruh, hingga pelaporan hasil pemeriksaan kepada pihak otoritas. Pesawat baru dinyatakan layak terbang setelah seluruh temuan investigasi ditindaklanjuti dan didokumentasikan sesuai Safety Management System.

Teguh menekankan bahwa proses ini jauh lebih ketat dibandingkan pemeriksaan pasca-penerbangan normal. Sebab, abu vulkanik dapat menyebabkan kerusakan tersembunyi, misalnya pada sistem elektronik atau turbin, yang efeknya baru muncul di penerbangan berikutnya bila tidak diperiksa tuntas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0